Uniquely Singapore Trip Part 2


WISATA HEMAT DI  SINGAPURA

PART #2

Kasur busa empuk, selimut dan AC membuat tidur saya cukup nyenyak rupanya. Bangun pagi badan terasa fresh kembali. Setelah sholat subuh, saya sempatkan ke pantry untuk membuat teh hangat dan roti bakar selai kaya, breakfast khas Singapore, beuhh nikmatnyaaa! Rata-rata tiap hostel disini menyediakan breakfast sejenis ini kok, self service tentunya. Tapi saya tidak bisa bermalas-malasan di hostel karena harus melanjutkan misi eksplorasi. Usai mandi, packing dan check out, saya menuju ke stasiun MRT, pemberhentian pagi ini adalah stasiun Promenade di Suntec Mall untuk menikmati Fountain Of Wealth yang masyhur itu. Sebuah air mancur raksasa di tengah Mall & dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Sayang datangnya kepagian, jadi air nya belum ngalir hehe. Padahal saat itu udah jam 10.30 loh, beda negara beda culture beda ritme kehidupan.

Jangan Lewatkan Harga Tiket Pesawat Termurah di Wego.co.id !!

Fountain Of Wealth

Puas menikmati air mancur raksasa ini (puas apaan? orang belum ngalir juga), saya pun berjalan kaki menuju kawasan Marina Bay. Trotoar yang rapi, rimbun dan tertib membuat nyaman para pejalan kaki. 10 menit berjalan kaki, sampailah saya di wahana bianglala raksasa Singapore Flyer. Kita dapat menikmati pemandangan 3 negara sekaligus, Singapura, Malaysia (Johor Bahru) dan Indonesia (Batam) dari ketinggian sekitar 165 meter. Bergeser sedikit, ada Helix Bridge, jembatan lengkung baja pertama di dunia yang melintasi teluk Marina dengan arsitektur yang unik. Sepanjang melintasi jembatan ini, kita disuguhi dua pemandangan berbeda sekaligus. Di satu sisi kita akan menikmati betapa megahnya gedung-gedung pencakar langit yang berjajar rapat sebagai salah satu indikasi kemajuan Singapura, dan di sat sisi kita akan menikamati pemandangan laut lepas dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi.

Begitu sampai di ujung, saya langsung tertarik dengan sebuah bangunan besar berarsitektur unik, The Art & Science Museum, masuk sekalian ngadem di tengah teriknya matahari siang itu. Disinilah karya-karya masterpice para seniman dari seluruh dunia dipamerkan dalam berbagai macam event yang digelar. Di sampingnya ada bangunan unik juga, namanya Louis Vuiton Island Maison, lapak nya brand “WAH” ini bener2 eksklusif. Tante-tante dan emak-emak pasti girang banget kalo masuk sini dan dijamin ga bakalan mau keluar lagi hehe. Kemudian saya pun masuk ke Marina Bay Sands Mall, pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan Marina Bay Sands Hotel, bangunan hotel super mewah dengan atap berbentuk kapal. Mengapa saya masuk ke mall ini? Tentu saja tidak untuk berbelanja, namun karena penasaran dengan Casino yang ada di dalamnya.  Kita dapat masuk dengan mudah dan gratis hanya dengan menunjukkan passport. Namun bagi warga negara Singapura, mereka harus membayar SGD $ 100 untuk masuk. Dan begitu masuk saya hanya bisa bengong, begitu luas casino ini dengan ratusan atau bahkan ribuan jenis permainan judi yang dtawarkan, persis seperti dalam film-film mafia itu. Tidak sampai lima menit saya di dalam, setelah rasa penasaran terjawab saya pun memutuskan untuk keluar. Enough !

 

Cuaca siang itu cukup panas. Pundak terasa pegal memanggul backpack berjalan kesana-kemari. Saya manfaatkan bangku-bangku yang tersedia disepanjang kawasan Marina Bay ini untuk melepas lelah sejenak sambil makan buah apel, nikmatnya. Mengitari dan menikmati kawasan Marina Bay membutuhkan waktu paling tidak satu jam. Semua tempat disini menarik untuk dijadikan spot foto. Termasuk landmark Singapura yang sangat terkenal itu, The Merlion si singa muntah. Air mancur yang keluar dari mulut singa ini terus mengalir selama 24 jam. Landmark lainnya adalah Esplanade, Theaters On The Bay. Sebuah gedung pertunjukan yang sangat besar berbentuk mirip buah durian. Belum lagi gedung-gedung pencakar langit nan megah yang rapi berdiri angkuh menghadap laut. Sebuah pemandangan yang spektakuler.

 Singapore

Setelah cukup puas kepanasan, saya lanjutkan eksplorasi negeri singa ini di kawasan Bugis & Little India. Dari namanya saja sudah terbayang betapa ethnic nya kawasan ini. Begitu sampai di stasiun MRT Bugis saya langsung masuk ke Bugis Village Market. Disini kita bisa menemukan berbagai macam merchandise & oleh-oleh khas Singapura dengan harga murah meriah. Jajanan & makanan juga relatif murah disini. Mengapa kawasan ini dinamai bugis street, karena menurut sejarah dahulu kala banyak orang-orang bugis yang merantau hingga menetap di daerah ini.

 Kawasan Little India berdekatan dengan Bugis Street. Hanya dipisahkan oleh sungai yang tidak terlalu lebar. Dan sesuai namanya, isinya orang india semua hahaha ya iyyalah, masa orang afrika? Hehehe. Cuman tidak sesuai dengan harapan saya. Terus terang saya membayangkan dan berharap akan bertemu dengan orang-orang india yang seperti di film-film Bollywood, seperti Aishwara Rai, Kajol, Preity Zinta atau Rani Mukherjee. Namun kenyataan berkata lain, disini orang indianya mayoritas dari etnis tamil dengan kulit gelap dan sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan yang di film-film. #kecewa. But its OK, toh walaupun rada-rada serem, mereka ramah juga ternyata. So, jangan takut untuk membaur dan mengenal masyarakat setempat.

 Abdul Gafoor Mosque

Setelah sebelumnya sempat sholat di Masjid Abdul Gafoor yang juga merupakan salah satu situs warisan budaya yang dilindungi oleh pemerintah Singapura karena keunikan arsitektur & sejarahnya, saya kemudian menuju The Inn Crowd Backpacker Hostel untuk cek in. First impression begitu masuk ke hostel ini, wow!! ini backpacker baget. Isinya mostly bule dengan backpack segede gaban. Tapi justru ini kesempatan untuk saya belajar dan menimba pengalaman dari mereka. Setelah ngobrol, cerita-cerita seru selama travelling mengalir begitu deras dari mulut mereka.

Matahari semakin condong ke barat, saat yang tepat untuk JJS, jalan-jalan sore di kawasan Little India.  Kebetulan sedang diadakan persiapan untuk perayaan hari raya Deepavali, hari besar pemeluk hindu untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Tidak heran jika pada perayaan ini dihiasi dengan bunga, lilin, lampion dan lampu warna-warni, meriah sekali. Berjalan menyusuri Serangoon Road yang merupakan pusatnya Little India memberikan sensasi tersendiri, serasa benar-benar di India. Di kiri jalan, sebuah kuil india yang megah berdiri dengan kokoh. Ya, Sri Veeramakaliamman Temple namanya. Kuil ini didirikan pada tahun 1881 oleh para pendatang dari India selatan. Arsitektur unik bergaya dravidian dengan patung dewa-dewi bertumpuk mengerucut di gerbang utama dengan interior penuh altar dan sesaji. Begitu masuk, aroma wewangian dupa menyengat hidung. Karena tidak kuat dengan aroma wanginya, saya pun tidak berlama-lama di dalam. Sekitar 300 meter dari kuil,  terdapat Mustafa Center, pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Singapura. Tapi menurut saya, yaa tidak ada specialnya tempat ini. Seperti layaknya pusat perbelanjaan di Indonesia, sama saja.

 Church, Masjid, Mosque, Temple, Singapore

Hari sudah gelap ketika saya kembali berjalan kaki menuju kawasan Kampong Glam/Arab Street. Tujuan pertama di kawasan ini adalah Masjid Sultan untuk sholat magrib. Subhanallah, masjid ini begitu besar dan megah dengan kubah-kubah warna emas dan dihiasi lampu warna-warni. Masjid terbesar di Singapura ini pertama kali dibangun oleh pendatang dari Jawa pada tahun 1826. Baru kemudian pada tahun 1920-an dibangun seperti sekarang oleh berbagai elemen masyarakat kala itu, jawa, arab, tionghoa, melayu dan india. Sampai sekarang selain dijadikan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi destinasi wisata utama yang menarik banyak wisatawan. Usai shalat, berjalan di Bussorah Street yang berada di sekitar masjid, terasa seperti berjalan di Baghdad, negeri seribu satu malam. Padahal ke Baghdad aja belum pernah, hahaha. Sungguh unik negeri ini, setiap tempat memiliki ciri khas kebudayaan sendiri dan indahnya, mereka hidup berdampingan dengan rukun dan toleran. Multicultural, unity in diversity.

 

Makan malam kali ini saya pilih menu timur tengah. Dan di Arab St ini ada rumah makan yang sangat terkenal akan kelezatan masakan khas india, pakistan & arabnya. Singapore Zam Zam Restaurant namanya. Terletak di seberang jalan Masjid Sultan membuat rumah makan ini mudah ditemukan dan harga yang murah pastinya membuatnya tak pernah sepi pengunjung.  Bukannya mau promosi, tetapi memang ketika saya coba Nasi Briyani dan Murtabak yang disajikan dengan kuah kari kental, rasanya? laziiiisss, maaak nyusss!! Makan super kenyang dengan berbagai menu tersebut, cuma habis +/- SGD $ 7 saja. No more explanation, pokoknya kalau anda berkunjung ke Singapura, hukumnya wajib ‘ain buat kesini. Ditambah dengan menyeruput teh tarik hangat, makan malam kali ini terasa sempurna. Dan malam disini pun terasa begitu cepat berlalu.

(TO BE CONTINUED)

9 thoughts on “Uniquely Singapore Trip Part 2

  1. Hampir semua yang ditulis juga rute jalan2ku tahun 2010 lalu.. Ahhh, jadi kangen sama mas mas yang jaga hostel the hive backpackers deh. Nah lohhhh.. Hahahahahahahahah..

  2. haloo an…. baru baca blogmu ni.. hehe.. new release ni ye.. sip sip.. rasanya aku pernah ke singapore, tapi eksplorasinya kurang. haha, maklum sama bapak2 n ibu2 boo.. emang masih banyak sudut2 singapore yang blm dijelajahi. huks..lebih enak ngeteng ala backpacker yaaa.. jadi pengennn.. next trip??? >>>>

    • halo ephie… thanks udah mampir, iya new release nih. banyak foto & artikel nganggur di harddisk, mending di share sapa tau bermanfaat. next trip? pengen bgt ke Halong Bay & Kinabalu. masih harus nabung buanyak inih. ada yg mau sponsorin ga ya? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s