Ritual Kirab Budaya Ruwat Bumi Magelang


RITUAL KIRAB BUDAYA RUWAT BUMI MAGELANG 2012

Magelang

Arak-arakan pengusung Kio

Sebuah perhelatan akbar baru saja digelar di Kota Magelang dalam rangka memperingati dan merayakan ulang tahun Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio ke 148. Sebuah rangkaian ritual panjang khas Tionghoa dijalankan dalam ruwat bumi sekaligus kirab budaya Kongco Hok Tik Cing Sien. Event yang digelar hanya setiap 5 tahunan ini dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 17-18 Maret 2012 lalu. Ini adalah kali kedua ritual ruwat bumi diadakan. Pertama pada tahun 2007.

Magelang

temaram senja di Kelenteng Liong Hok Bio

Kesibukan sudah terlihat sejak seminggu sebelum acara. Berbagai atribut khas Tionghoa seperti patung, lampion warna-warni dan umbul-umbul dipasang di Kelenteng agar terlihat meriah. Yang menarik dari event ini bukan hanya pernak-pernik perlengkapan ritual maupun tata caranya, namun juga pesertanya yang melibatkan undangan Kelenteng/TITD se pulau jawa, baik dari Jawa Tegah, Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Magelang

prosesi penyerahan Kong Co

Sabtu, 17 Maret 2012 jam 6 pagi prosesi dimulai. Para umat dengan khusyu’ mengikuti doa tri dharma di TITD Liong Hok Bio yang terletak di tenggara alun-alun kota. Suasana pagi, siang hingga sore semakin ramai ketika satu persatu delegasi Kelenteng undangan se pulau jawa mulai berdatangan di alun-alun timur Magelang dengan berbagai macam perlengkapannya. Dengan menggunakan bus dan truk para delegasi berangkat dari kota masing-masing untuk ikut berpartisipasi dalam event ini. Rata-rata masing-masing delegasi terdiri dari 30-70 orang. Mereka membawa Kio/tandu yang akan digunakan untuk kirab esok hari mengarak patung dewa-dewi beserta tetabuhannya. Begitu datang, patung dewa/Kiem Sin dari para delegasi kemudian disembahyangkan dan diserahterimakan di dalam Kelenteng. Total ada 38 kelenteng dari kota-kota  penjuru pulau jawa yang ikut berpartisipasi. Mulai dari kota terdekat seperti Muntilan, Temanggung, Parakan, Purworejo, Yogyakarta, Cilacap sampai yang jauh-jauh antara lain Jakarta, Bekasi, Pekalongan, Jepara, Lasem, Blora, Bojonegoro dan Banyuwangi.

Magelang

boleh dong partisipasi gotong Kio 😛

Masih dalam satu rangkaian ruwat bumi, malam harinya selain acara hiburan dan lelang di gedung serba guna kelenteng yang dimeriahkan oleh Xu Wen You, penyanyi dari negeri jiran Malaysia, juga diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di alun-alun selatan dengan lakon “Semar Mbangun Jiwo” oleh dalang Ki Warseno Slank. Ribuan masyarakat tua muda tumpah ruah di alun-alun malam itu, antusias menonton pagelaran wayang. Didukung dengan cuaca cerah membuat para penikmat wayang betah berlama-lama. Jalan cerita yang mengangkat tokoh utama Semar ini memang sarat akan makna kehidupan.  Pesan yang ingin disampaikan adalah agar manusia selalu mensyukuri dan menjaga setiap apa yang sudah diberikan oleh Tuhan agar kehidupan kosmik ini selalu berjalan dengan selaras.

Hari berganti, prosesi kirab ruwat bumi pun dimulai. Pukul 6 pagi pada hari Minggu 18 Maret 2012 diadakan doa bersama di kelenteng dilanjutkan dengan pengembalian patung dewa/Kiem Sin kepada delegasi masing-masing untuk kemudian diletakkan di Kio/tandu yang sudah dihias secantik mungkin dengan bunga-bunga dan hiasan etnik tiongkok. Satu persatu patung dewa dikeluarkan dari dalam kelenteng. Menjelang siang ribuan masyarakat sudah memadati jalan-jalan yang akan dilewati kirab ruwat bumi kali ini yang mengambil rute: Klenteng Liong Hok Bio – Jalan Pemuda – Jalan Tidar – Jalan Tentara Pelajar – Jalan Pajajaran – Jalan Jenggolo – Jalan Daha – Jalan Tentara Pelajar – Jalan Yos Sudarso – Jalan Veteran – Jalan A. Yani dan kembali lagi ke Kelenteng. Tepat pukul 10.00 Walikota Magelang Bp Sigit Widyonindito melepaskan balon ke udara sebagai tanda bahwa kirab segera dimulai. Iring-iringan masing-masing peserta kirab mulai bergerak perlahan. Pasukan marching band dan kesenian tradisional warok bocah berada di barisan terdepan. Suara derap marching band yang membahana semakin memeriahkan suasana. Dilanjutkan dengan barisan pemuda-pemudi Kelenteng berpakaian merah yang membawa panji-panji dan lampion, membuat penonton terpukau seolah-olah kita dibawa melihat festival budaya di Negeri China. Barisan tersebut dipercaya masyarakat Tionghoa sebagai pembawa penerangan. Di belakangnya iring-iringan kio (tandu) dari masing-masing delegasi, liong, dan patung kertas dewa dalam ukuran raksasa. Cara mengangkat tandu nya pun unik, dengan digoyang-goyangkan kekiri kekanan kedepan kebelakang mengikuti iringan musik yang ada dibelakangnya. Tandu seberat 200Kg itu berisi patung dewa kecil/Kongco yang digotong oleh sekitar 8 orang sambil menari-nari. Menurut pak Ahong, salah satu peserta kirab, tandu-tandu tersebut bukan digerakkan oleh para pengusungnya, melainkan digerakkan oleh kekuatan magis roh dewa yang ada di dalamnya. Wow!!

Magelang

Dalam kirab yang diikuti oleh 38 kelenteng se pulau jawa ini, tuan rumah yaitu Kelenteng Liong Hok Bio Magelang menurunkan 7 buah Kio dengan berbagai ukuran. Total terdapat 45 tandu dari semua peserta. Yang menarik dari tandu milik Kelenteng tuan rumah adalah Kio Hok Tik Tjing Sien (Dewa Bumi) seberat 150 kg, dibuat dengan tatahan dan balutan emas pada seluruh detailnya dengan menghabiskan sekitar 200 Juta rupiah untuk biaya pembuatannya hasil sumbangan umat di Kota Magelang. Selain itu juga ada Kio Hao Liang Hong (penjaga) dan Kio Hian Thian Sian Te (Dewa Pengobatan) yang diarak bersama. Bagi para peserta, bergantian memanggul Kio dipercaya dapat mendatangkan keberkahan dan keberuntungan. Maka tidak heran, semua peserta bersemangat meski cuaca cukup panas sampai bermandi peluh.

Magelang

Naga / Liong sepanjang 100 meter

Selain Kio yang diarak, ada juga beberapa kelompok Barongsai dan Liong Samsi/Naga yang juga ikut memeriahkan karnaval ini. Salah satunya adalah Liong/Naga dari Armed 3 guntur geni Magelang yang para personilnya adalah prajurit TNI. Liong ini memiliki panjang 100 meter. Bayangkan bagaimana atraktifnya liong ini ketika meliuk-liuk diantara jalanan kota Magelang yang saat itu disesaki ribuan pengunjung. Kelompok kesenian angklung, tari dayakan, grasak kebo giro, topeng ireng dan kobra siswa berada di barisan belakang iring-iringan ini. Sebuah perpaduan budaya yang harmonis dan indah tersaji siang itu. Budaya Tiongkok dan Jawa begitu kental terasa. Masing-masing memiliki karakter kuat tersendiri yang ternyata bisa berpadu dan bersinergi, menghasilkan tontonan menarik. Tujuan rawat bumi kali ini adalah untuk berdoa menyejahterakan lingkungan, masyarakat baik pejabat maupun umat supaya hidup lebih sejahtera, rukun, sehat, makmur, dan tidak banyak masalah yang timbul di Kota Magelang khususnya, dan Indonesia umumnya. Jadi, kita tunggu event ini 5 tahun lagi.

One thought on “Ritual Kirab Budaya Ruwat Bumi Magelang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s