Sepotong Surga Itu Bernama: KARIMUNJAWA


SEPOTONG SURGA ITU BERNAMA: KARIMUNJAWA

Sebuah perjalanan yang begitu mengesankan, saya alami tepat 1 tahun lalu, 22-25 April 2011. Perjalanan menuju sebuah surga dunia yang berada di tengah-tengah laut jawa, Karimunjawa. Here’s the story…

Pulau Cemara Kecil, nyemplung yuk!!

Rasa penat dan jenuh mengusikku akhir-akhir ini, mungkin karena sudah bosan dengan rutinitas kantor di yang hanya itu-itu saja. Kuputuskan untuk ambil cuti dan… berpetualang…. Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 00.55 WIB. Disaat orang-orang sedang terlelap dalam mimpi indahnya, aku bangkit dan bergegas mempersiapkan segala sesuatunya, demi sebuah perjalanan yang kuidamkan selama ini. Semua perlengkapan travelling sudah masuk dalam backpack. Simpel dan tidak merepotkan. Petualangan kali ini lebih terasa seperti sebuah perjalanan spiritual, karena saking penasarannya akan kata orang-orang yang bercerita mengenai sepotong surga dunia di tengah laut jawa, “Karimunjawa”.

Bersama tiga orang teman, tengah malam itu kami berangkat dari Solo menuju Jepara dengan menggunakan Avanza yang kami rental siang harinya. Perjalanan menembus malam terasa begitu cepat (ya iyyalah, secara gak pake macet). Aroma khas laut sudah tercium, rupanya kami baru saja memasuki gerbang “Pelabuhan ASDP Pantai Kartini Jepara”. Seusai menunaikan sholat shubuh di mushalla pelabuhan, sambil menunggu pemberangkatan kapal, kami sempatkan sarapan di kedai. Sensasi menyeruput teh hangat pagi itu begitu luar biasa nikmat, meskipun teh yang disajikan tidak berbeda dengan yang dibuat ibu di rumah atau office boy di kantor.

bersiaplah terapung-apung diatas KMP Muria ini

KMP Muria, kapal ferry yang selalu setia melayani rute Jepara-Karimunjawa sudah menanti di dermaga. Kapal berangkat tepat pukul 09.00. Dengan ticket kelas ekonomi seharga Rp. 28.500,- sudah ditangan, one step closer to the heavenly Karimunjawa. Kami pun mencari tempat duduk yang paling nyaman agar perjalanan selama 6 jam kedepan bisa dinikmati. 6 jam?? Ya!! Karena dengan jarak +/- 90 Km dari Jepara, kecepatan KMP Muria hanya 7,5 Knot/hour. Rasanya hampir sama dengan perjalanan naik becak dari Semarang ke Jogja… pelaann dan gak nyampe-nyampe hahaha. Tapi karena memang sudah menata hati dari awal, ya Enjoy aja!! Banyak hal yang dapat kita lakukan selama penyeberangan. Mulai dari nonton TV yang sudah disediakan, ngemil, mendengarkan musik, main kartu, cari kenalan, foto-foto, ngobrol dengan nahkoda, petak umpet, sampai memasrahkan diri pada pil obat tidur dan merebahkan tubuh di geladak kapal tanpa menghiraukan sapaan lumba-lumba yang acapkali berenang di lambung kapal ketika perjalanan.

ini foto beginian, belum saling kenal loh, welcome to karjaw

Pukul 15.00 WIB kapal berhasil sandar di dermaga Karimunjawa. Alhamdulillah, kami berhasil menginjakkan kaki di tanah lagi, setelah terapung-apung plus kepanasan di tengah laut jawa. Bu Munaroh, pemilik homestay yang kami sewa selama di Karimunjawa sudah menjemput kami di dermaga. “Piye perjalanane? Kesel?” sapanya ramah dalam bahasa jawa. Dengan mini van kami diantar menuju ke rumahnya yang hanya sekitar 800 meter dari dermaga. Dan, Oh Tuhaaan nikmat manalagi yang kau dustakan? Es batu, kelapa muda dan syrup sudah terhidang di teras rumah. Tanpa basa-basi lagi, hajaaaarrrrrr !!

Karena saya ikut dalam trip komunitas Explore Karimunjawa, maka saya berbaur dan bertemu dengan peserta trip dari daerah lain. Kami pun tanpa canggung langsung berkenalan. Tour leader kala itu ada Mas Ucup, Mbak Imeh dan Mas Kris. Peserta dari Kediri antara lain Wenang, Dafid, Sugik, Martin, Lusy. Sementara dari Surabaya ada Laily. Rombongan Jakarta antara lain Amel, Ifath, Angie, Ditha, Adam, Berry, Ari, Qibtiah, Ezha. Sementara dari Cirebon ada Faiz dan Lia, dan beberapa peserta dari daerah lain seperti Bandung, Lampung dan teman² lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu (udah kaya pengantar skripsi aja yes jadinya). Secara umum, umur kita hampir sebaya jadi tak butuh waktu lama untuk kami sudah terlibat dalam obrolan seru dengan logat masing-masing daerah. Usai membersihkan diri dan beribadah, kami bersama-sama menuju dermaga barat, hunting sunset. Sungguh, menyaksikan sang surya pulang ke peraduannya adalah sebuah moment yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. “DIA” Maha Kuasa.

Sunset Dermaga Barat

Malam hari di Karimunjawa adalah saat yang tepat untuk wisata kuliner. Begitu banyak makanan yang dijajakan di alun-alun Karimunjawa ini. “Ha? Alun-alun? Emang ada?” haha begitulah adanya. Tanah lapang di depan kantor kecamatan seluas lapangan sepak bola ini lah yang biasa disebut alun-alun. Lumayan lah untuk tempat nongkrong sembari menikmati makanan khas Karimunjawa seperti aneka ikan bakar, bakso ikan ekor kuning, ikan serepeh, pindang serani, dan yang paling ajiiiiibbbb adalah tongseng cumi, beuhhh!!. Harga yang dibanderol pun masih murah dan wajar. Apalagi kalau sudah memasuki musim ikan antara bulan Juni-September, ikan disini melimpah. Setelah puas memanjakan perut, kami pun pulang dan beristirahat karena pagi harinya tidak mau melewatkan indahnya sunrise di Karimunjawa.

ini cumi ajibnyaaa ujubilah

Usai shubuh berjamaah di mushalla dekat homestay, saya dan beberapa teman bergegas menuju Palm Beach Nirwana Resort, sekitar 2 Km sisi timur Karimunjawa. Dan betapa beruntungnya, pagi itu mentari muncul perlahan dibalik awan tipis ufuk timur. Semburat biru, kuning, jingga berbaur jadi satu menyeruak di cakrawala (cih!! Sok puitis). Tak lama setelah mengabadikan moment, kami pun pulang untuk sarapan dan berisiap tour laut hari pertama.

Palm Beach Nirwana Resort, spot hunting sunrise

Dua buah kapal milik Pak Tomo sudah siap di dermaga, kami pun memutuskan untuk mengeksplore jalur barat terlebih dahulu. Pagi itu perairan Karimunjawa tak ubahnya seperti danau, tenang sekali. Pulau pertama yang disinggahi yaitu Pulau Cemara Besar. Setelah 40 menit berlayar, gradasi warna biru tua, biru muda, tosca dan putih krem nya pasir menyambut kami. Deretan hijaunya pohon cemara laut meliauk-liuk tersapu angin. Tanpa pikir panjang, “byuurrrrrr” seorang teman dari Jogja langsung menceburkan diri ke laut tanpa snorkel gear dan sepatu katak/fin yang telah disediakan. Tiba-tiba, “tolooonggg” ia menjerit kesakitan. Mas Siswanto, guide lokal dalam perahu kami pun dengan sigapnya meraih teman saya itu. Bukan karena tenggelam karena kedalaman air hanya selutut saat itu, tetapi ternyata dia terkena ikan batu atau orang sana menyebutnya ripho. Kulit di kakinya mendadak seperti luka bakar dan harus segera diobati. Dia pun harus menikmati liburannya di Puskesmas Karimunjawa dengan diantar salah satu kapal kami. Pelajaran pertama hari itu, selalu gunakan alas kaki ketika berjalan di pantai, banyak biota laut yang kadang terkubur dibawah pasir nan halus itu. Memang indah dan beraneka ragam biota disini, namun dibalik itu tersimpan toksin yang berbahaya. Waspadalah !! Waspadalah !! (ala bang napi)

sail away !!

Terlena akan keindahan bawah laut dengan ber-snorkeling ria di Cemara Besar, membuat kami lupa untuk isi amunisi alias makan siang. Kami pun pindah ke pulau Cemara Kecil untuk makan siang dengan bakar ikan sepuasnya. Hmmmm yummy. Spot favorit di pulau ini adalah berfoto di gosongan/gundukan pasir putih yang hanya muncul ketika air surut. Tak peduli teriknya matahari siang itu, aji mumpung pun di halalkan disini. “Ahh mumpung disini, kapan lagi bisa gini”. Selepas makan dan guling gulingan di pasir (nurut loe??), kami kembali ke kapal kembali berlayar menuju Pantai Tanjung Gelam yang masyhur dengan sunset nya. Dan benar saja, moment yang tepat kami dapatkan kala itu. semburat senja merah tersaji bagai lukisan maha karya sang maestro alam raya. Seolah semua menahan nafas ketika menyaksikan detik-detik matahari perlahan ditelan cakrawala. Begitu hari mulai gelap, kapal angkat jangkar dan kembali berlayar mengarungi tenangnya laut jawa menuju dermaga.

Amazing Sunset in Tanjung Gelam

Pagi hari selanjutnya, kami berjalan kaki dari homestay ke dermaga. Dipenuhi gelak tawa, kami pun saling ejek karena ternyata baru sadar bahwa kulit muka dan tangan kami sudah jaaauuuuhh berbeda dengan sebelum kami berangkat. Sebagian beranggapan lebih gosong lebih eksotis katanya. Tapi kalo gosongnya belang-belang kan gak lucu yaa, apalagi balik cuti langsung ngantor & harus ketemu customer & klien. Yah, whatever!!

Free Diving? anyone?

Pulau-pulau di jalur timur telah menunggu untuk di jelajahi. Masih ditemani Pak Tomo dengan kapalnya yang berkekuatan 3 baling-baling, setelah 1 jam berlayar sampailah kami di Pulau Tengah. Dermaga kayu yang menjorok ke lautan nan biru mempesona kami, seolah sedang berada di Maldives atau di Kepulauan Karibia, padahal masih di Indonesia saja. Setelah memakai snorkel gear, kami langsung larut akan eksotime karang-karang bawah laut yang masih alami. Kontur tebing membuat snorkeling kali ini lebih memacu adrenalin, karena terlihat jelas perbatasan laut dalam dan karang tepi pantai. Kalau beruntung, kita dapat berjumpa dengan Barracuda dan Hiu disini. Berbagai jenis biota laut berwarna warni hidup berkoloni di sekitar pulau ini. Terdapat sebuah keluarga kecil yang mendiami pulau kecil ini. Mereka menjajakan makanan dan jajanan bagi para pengunjung pulau. Termasuk kelapa muda yang tinggal petik langsung dari pohonnya. Ada juga fasilitas homestay apung/berda diatas laut dengan fasilitas lumayan yang bisa disewa.

Pulau Tengah ini Subhanallah deh

Beranjak dari pulau Tengah, kami menuju Pulau Kecil untuk menemui spongebob dan teman-temannya. Di bawah dermaga Pulau Kecil, kita disambut dengan ikan-ikan hias yang berkumpul di bawahnya. Sedikit menyelam ke bawah, kita dapat bercanda dengan ikan badut alias nemo yang lucu. Ikan-ikan kecil langsung mengerubungi ketika remah-remah roti dan sisa nasi saya sebarkan di dalam air tepat di depan muka. Ikan-ikan itu pun berebut makanan tanpa malu-malu lagi dengan manusia yang ada di sekitarnya. Namun meski berada di sekitar kita, tidak mudah untuk menyentuh ikan tersebut karena gesit sekali berenangnya.

Menjelang sore, petualangan belum usai ternyata. Pak Tomo sang nahkoda mengarahkan kapal ke Pulau Menjangan Besar, “siap-siap pada uji nyali” katanya sambil senyum penuh arti. Ternyata terdapat penangkaran hiu disini. Saya pun tertantang untuk berenang bersama hiu-hiu yang terlihat sadis itu. Ada hiu karang, hiu sirip hitam, hiu kepala martil dan beberapa lainnya. Sensasinya? Luarrrrr Biassaaaa!! Bayangkan saja, kita dikelilingi puluhan hiu yang sewaktu-waktu siap menggigit kita jika ada bau darah. Untuk anda para wanita yang sedang datang bulan, silakan menonton saja dari atas jika masih menyayangi diri anda.

dear sharks, please be nice to me

Kapal kembali merapat ke dermaga. Setibanya di homestay, listrik sudah menyala. Maklum, listrik di Karimunjawa hanya hidup dari pukul 18.00 s/d 06.00 setiap harinya. Itu pun menggunakan PLTD. Jadi manfaatkan untuk mencharge semua alat elektronik selagi listrik nyala. Usai membersihkan diri, beramai-ramai kami langsung menyerbu toko souvenir dan oleh-oleh di sekitar alun-alun. Ada yang memborong rumput laut, teri, kerupuk kerapu, aksesoris, sampai tongkat kayu dewandaru khas Karimunjawa. Karena malam itu malam terakhir dan tidak mau terlewat begitu saja, kami berkumpul, bercanda dan sharing. Dalam pembicaraan kami, terungkap ternyata masih banyak tempat-tempat seru yang belum kami jelajahi di Karimunjawa ini, diantaranya tracking di mangrove forest, berziarah di makam Sunan Nyamplungan, kampung bugis di Pulau Kemujan, mandi di air terjun Songgolangit, diving di IndoNor ship wreck dan masih banyak pulau-pulau kecil nan eksotis lainnya.

Jump !!!!!!

Sebelum tidur, semua packing barangnya masing-masing karena pagi harinya kami harus sudah meninggalkan Karimunjawa, berlayar menuju jepara kembali menuju dunia nyata. Selama pelayaran pulang menuju Jepara dengan KMP Muria, saya berkontemplasi, terima kasih Tuhan atas kesempatan liburan ke Karimunjawa kali ini yang benar-benar membuat pikiran dan jiwa saya fresh lagi. Menikmati indahnya alam Karimunjawa, bertemu dengan teman-teman baru, penduduk asli yang ramah, makanan lezat nan murah dan yang terpenting kita menemukan nilai-nilai kehidupan yang baru dalam setiap perjalanan. Dan, nilai-nilai itu banyak saya temukan dalam perjalanan menuju sepotong surga di tengah laut Jawa bernama, Karimunjawa…

One thought on “Sepotong Surga Itu Bernama: KARIMUNJAWA

  1. Haduuuhhh…ngeliatin n baca postingannya sampe 2 kali makin gatel dah nih ketek pengen ke Karimun..Bah!!!

    -_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s