Prosesi Grebeg Gethuk, Perayaan Hari Jadi Kota Magelang ke 1106


Prosesi Grebeg Gethuk, Perayaan Hari Jadi Kota Magelang ke 1106

Cuaca pagi itu cukup cerah, suasana di Alun-alun Kota Magelang berangsur ramai. Satu persatu peserta upacara yang merupakan perwakilan instansi pemerintah, swasta dan sekolah seluruh Magelang berdatangan. Yang wanita terlihat anggun mengenakan kebaya dan sanggul sedangkan yang laki-laki terlihat gagah mengenakan baju beskap. Semua peserta upacara memang diharuskan mengenakan pakaian adat Jawa Tengah. Tak ketinggalan, gunungan palawija/hasil bumi dari 17 kelurahan yang ada di Kota Magelang pun telah menepati posisi masing-masing di alun-alun.

Orkes Klunthung Topeng Ireng SMP N 4 Magelang

Hari Minggu, 15 April 2012 sekitar pukul 9 pagi, prosesi upacara dimulai. Matahari yang cukup terik tak menyurutkan semangat peserta upacara, ribuan masyarakat yang menonton maupun puluhan awak media yang siap mengabadikan dan meliput jalannya prosesi Grebeg Gethuk kali ini. Dibuka dengan orkes Klunthung Topeng Ireng dari SMP Negeri 4 yang atraktif memadukan musik etnik dengan tarian yang rancak. Dilanjutkan dengan penampilan ratusan penari Kuntulan dari siswa-siswi SMA N 2 yang berkostum putih-putih nan menawan. Tarian ini menggambarkan perjuangan para prajurit pendekar tidar melawan penjajah Belanda kala itu.

Tari Kuntulan Pendekar Tidar

Setelah penampilan pembuka tersebut upacara pun dimulai. Dipimpin langsung oleh Bp Ir Sigit Widyonindito selaku Walikota Magelang, upacara peringatan hari jadi Kota Magelang ke 1106 tahun 2012 ini cukup unik karena semua aba-abanya menggunakan bahasa jawa. Karena tidak familiar, banyak peserta upacara yang tidak mengerti aba-aba dari pemimpin upacara. Jadi beberapa kali sempat terjadi miskomunikasi yang menimbulkan kelucuan di tengah prosesi upacara yang khidmat.

jajaran muspida Kota Magelang

Usai pembacaan sejarah kota seperti yang tertulis dalam prasasti Mantyasih dan pembacaan doa, upacara ditutup dengan pementasan sendratari kolosal “Dumadhine Kutha Magelang” oleh MGMP Seni Budaya SMP se-Kota Magelang. Sebanyak 260 orang di bawah koordinasi komunitas alumni ISI Jogja-Solo kota Magelang menceritakan sejarah berdirinya kota ini. Sekitar 20 menit para seniman mementaskan sendratari dengan apik. Menggambarkan kondisi agraris masyarakat Magelang sekitar 11 abad lalu ketika masih zaman Mataram hindu.

gunungan gethuk jaler & putri

Di akhir pementasan sendratari, hal yang paling ditunggu-tunggu oleh ribuan masyarakat akhirnya muncul juga. Dua buah gunungan utama yaitu gunungan jaler dan putri yang sejak pagi disemayamkan di depan Masjid Agung pun diarak menuju tengah-tengah arena upacara di alun-alun dengan tari-tarian. Total berat kedua gunungan gethuk ini mencapai 150 Kg. Setelah wali kota membacakan ikrar Grebeg Gethuk dan pencanangan Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga, tanpa komando masyarakat yang tidak sabar menunggu langsung menyerbu dua gunungan gethuk tersebut. Tak ayal hanya dalam sekejap, dua gunungan itu ludes jadi rayahan/rebutan warga. Begitu pula dengan 17 gunungan palawija lainnya, persembahan dari 17 kelurahan. Banyak diantara masyarakat itu yang menganggap apabila berhasil mendapatkan gethuk maupun palawija dari gunungan tersebut maka dia akan mendapatkan berkah. Hehe wallahu a’lam.

masyarakat memperebutkan gunungan gethuk

Advertisements

2 thoughts on “Prosesi Grebeg Gethuk, Perayaan Hari Jadi Kota Magelang ke 1106

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s