Festival Lima Gunung Magelang 2011


Festival Lima Gunung
Parade Budaya Jawa Swadaya Warga

Mendapat kabar event Festival Lima Gunung akan kembali digelar pada tahun 2012, di postingan kali ini saya pengen cerita tentang meriahnya event Festival Lima Gunung ke 10 yang digelar pada tahun 2011 lalu.  Enjoy It !!

========================================================

Pagi itu cuaca begitu cerah, angin semilir berhembus dari lereng Merapi. Para warga sudah sibuk bergotong royong membersihkan dan menata kampung. Ya, sebuah perhelatan akbar akan digelar di dusun ini, dusun Keron, desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan Magelang. Sebuah festival budaya tahunan tempat berkumpulnya para seniman lima gunung yang mengelilingi kota Magelang ini, gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan Menoreh. Tanggal 9-10 Juli 2011 akan digelar Festival Lima Gunung ke 10 yang kali ini mengangkat tema “Tembang Kautaman”.

Di dusun Keron, sebuah dusun kecil di lereng merapi dengan penduduk +/- 80 kepala keluarga ini digelar festival budaya untuk terus nguri-uri kabudayan jawi dengan mempertemukan para seniman lima gunung dalam sebuah festival budaya tahunan. Festival ini digelar pertama kali pada tahun 2001, dan tahun ini sudah yang ke 10 kalinya. Secara swadaya dan mandiri masyarakat menggelar acara ini. Belum ada sponsor ataupun bantuan dana pemerintah karena memang inisiatif sendiri dari para seniman yang tergabung dalam kumunitas lima gunung. Padahal acara semacam ini dapat dijadikan sebagai agenda wisata daerah Magelang yang menarik dan dapat mendatangkan wisatawan. Sehingga dapat menggerakkan perekonomian warga sekitar dan menambah pemasukan pemerintah dari sektor wisata.

Tari Topeng Ireng Anak

Tari Topeng Ireng Anak

Puncak acara pada Sabtu-Minggu 9-10 Juli 2011. Terdapat dua panggung utama di desa ini. Satu di halaman Masjid, satu di halam rumah seorang warga. Dan berikut agenda puncak acara festival lima gunung seperti dikutip dari facebook fan page Komunitas Lima Gunung berikut ini:

SABTU, 9 Juli 2011
10.00 – 11.00 “Topeng Ireng Bocah” dari Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan
11.00 – 12.00 Pembukaan Pameran Foto dan Peluncuran Buku ”Jalan Sufi Seniman Merapi” karya Sholahuddin al-Ahmed
12.00 – 13.00 Istirahat, Sholat dan Makan
12.00 – 13.45 “Topeng Ireng Wargo Budoyo” dari Dusun Ngelulang, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan
13.50 – 14.20 “Grasak Kebo Giro” dari Dusun Bandongan, Desa Gondosuli, Kec Muntilan
14.25 – 15.20 “Topeng Ireng Jimat Kalimosodo” dari Dusun Bawangan, Kec. Sawangan
15.15 – 15.45 “Grasak Butho Ijo” dari Dusun. Sewukan, Kec. Sawangan
15.50 – 16.35 “Jathilan Turonggo Mudo” dari Dusun Gantang, Kec. Sawangan
16.45 – 16.55 “Smaradana” karya Nungki Nur Cahyani dari Jogjakarta
19.00 – 19.08 “Bajidor Kahot” oleh Sekar Manggala dari Surakarta
19.10 – 20.55 Pemutaran Film “Babat Wonosobo” dan “Lengger Terakhir” Sutradara Hengky Bambang Supriyatno
21.00 – 22.30 Pemutaran Film oleh komunitas Borobudur Movie Links
1. Dunia Kecil Dalam Kotak Sutradara :Ginanjar Teguh Iman / Herlina Ratna Furi
2. Menari Dengan Angin Sutradara :Ginanjar Teguh Iman
3. Slenggrong Sutradara :Risdiyanto/Aris
4. Sekolah Demokrasi Sutradara :Abdul Latip Khoirudi
5.Topeng Kertas Sutradara eni Dwi Kurniawan

MINGGU, 10 Juli 2011
10.00 – 10.30 Drum Band SD IT Sawangan
10.30 – 11.30 Drum Band SMP Santa Maria, menghatar ke lokasi Pameran Foto, Ritual dan Pentas Pembukaan ABBAL, Muntilan
11.30 – 13.00 Istirahat, Sholat dan Makan
13.00 – 13.15 Perfomance “TERLAHIR”
13.15 – 14.00 Arak – arakan dan “Madyo Pitutur” dari Dusun Wonolelo, Desa Wonolelo, Kec. Bandongan di arena
14.00 – 14.15 Pembukaan dan Pemukulan Gong oleh pemimpin dari masing-masing Gunung
14.15 – 14.45 “Lengger Argo Kencono” dari Dusun Krandengan, Desa Suko Makmur, Kec. Kajoran
14.55 – 15.15 “Grasak” dari Dusun Petung, Desa Petung, Kec. Pakis
15.25 – 16.00 “Jazz Gladiator Gunung” Dusun Gejayan, Desa Bnyusidi, Kec. Pakis
16.10 – 16.30 “Drama Tari” dari Dususn Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kec. Ngablak
16.40 – 16.55 “Gojek Bocah” dari Dusun Wonolelo, Desa Wonolelo, Kec. Bandongan
17.00 – 17.30 “Kuda Lumping” dari Dusun Dayugo, Desa Banyusidi, Kec. Pakis
17.30 – 19.00 Istirahat, Sholat dan Makan
19.00 – 19.15 “Truntung Jemari Bhumi” Dusun Gejayan, Desa Bnyusidi, Kec. Pakis
19.25 – 19.45 “Topeng Ireng” dari Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kec. Pakis
19.55 – 20.15 “Wayang Orang” dari Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kec. Dukun
20.25 – 20.45 ISI SOLO
20.55 – 21.25 “Kukilo Gunung” dari Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan

Bagi sebagian besar warga Magelang, menyaksikan pertunjukan Jathilan, Dayakan, Topeng Ireng, Grasakan, Kuda Lumping dan lain sebagainya mungkin sudah biasa. Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang di luar Magelang seperti beberapa warga Jakarta dan beberapa bule yang terlihat asyik menikmati pertunjukan kala itu. Panas, debu dan bau keringat orang-orang yang berdesakan pun tak dihiraukan lagi. “asyikin ajah” ujar mereka dalam logat bule yang belum lancar berbahasa Indonesia ketika saya tanya tanggapan mereka tentang event ini. Pada hari terakhir, dihadiri juga oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh akademisi dan para seniman.

Tari Grasak Kebo Giro dalam Festival Lima Gunung

Tari Grasak Kebo Giro dalam Festival Lima Gunung

Selama festival berlangsung, begitu banyak masyarakat dari desa-desa sekitar Sawangan dan kota-kota di sekitar Magelang datang berduyun-duyun menyaksikan acara ini. Para jurnalis pun baik dari media cetak maupun elektronik antusias meliput. Sebuah hiburan gratis bagi masyarakat kecil yang penuh pesan moral dan mencerminkan kearifan lokal yang sudah sangat jarang kita dapatkan di era globalisasi saat ini. Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari festival ini. Ketulusan, keikhlasan, pengabdian, rela berkorban, persaudaraan dan semangat persatuan yang erat dalam usaha mewujudkan sebuah misi dan visi budaya yang positif, sudah sepatutnya mendapat dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah. Dikhawatirkan apabila kegiatan semacam ini tidak mendapatkan dukungan, maka lambat laun akan punah tergerus oleh modernisasi zaman yang semakin mengkhawatirkan. Jadi, mari kita dukung dan lestarikan kebudayaan jawa yang adilihung ini, karena jika bukan kita, lalu siapa lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s