Nescafe Journey – Team Explorer [Day 2]


Turun Gunung Pergi Melaut

“Mau ngapain kalian ke Ruteng? disono tempat Jin buang anak tauu, dingin.. hahahaha” kata Om Wally Siagian sambil terkekeh, sesaat waktu masih di Labuan Bajo sebelum kami berangkat ke Ruteng. Kalimat itu yang terngiang pertama kali saat subuh-subuh terbangun dari tidur yang lelap. Ternyata om Wally bener, disini dinginnya maksimal. Sangat kontras dengan kondisi sebagian besar wilayah NTT yang panas & gersang. Usai sholat & mandi, team kami ngopi sejenak di depan kamar menikmati damainya pagi di Ruteng. Slluuurrrpp…

Suasana Pagi di Ruteng

Suasana Pagi di Ruteng

Setelah cek out, kami bergegas menuju ke kebun kopi milik warga yang banyak terdapat disini. Namun di tengah jalan kami sempat mampir ke gudang kopi dan hasil bumi lainnya, yang ternyata milik Pak Bambang, warga pendatang dari Surabaya yang telah menetap lama di Ruteng. Beliau sangat welcome, dengan gembira menyambut kami begitu tau kami berlima datang dari antah berantah hehe. Cerita seru tentang seluk beluk bisnis kopi di NTT pun mengalir begitu saja dari mulut Pak Bambang. Istrinya, Bu Bambang (ya iyalah, masa Bu Parto) juga tak kalah antusias menjelaskan pada kami proses sortir biji-biji kopi yang sedang dilakukan, untuk nantinya di ekspor ke luar negeri. Kopi jenis robusta maupun arabica ditanam di daerah sini. Katanya kopi Flores memiliki ciri khas tersendiri dibanding kopi dari daerah lain. Dan saat kami mohon diri, eh nggak nyangka, ternyata kami dibekali kopi bubuk asli Ruteng dan biji kopi mentah asli Manggarai, Flores untuk oleh-oleh. Yeayyy!!

Biji Kopi Manggarai Flores

Biji Kopi Manggarai Flores

Kehidupan disini sangat tenang. Waktu terasa berjalan sangat lamban. Senyuman ramah khas masyarakat Nusa Tenggara membuat kami nyaman dan tidak terasing, meski sebenarnya kami sedang berada di tempat yang asing. Pasar tradisional adalah cerminan kultur suatu daerah. Untuk itulah kami rela menyusuri gang-gang sempit nan pengap di Pasar Ruteng demi menyelami lebih dalam kultur setempat. Teh Riyanni Djangkaru beli kain Songket, tenun handmade asli Ruteng. Motifnya unik sih, tapi harganya selangit. Yaa wajar lah, kan proses pembuatan selembar kain tenun ini memakan waktu yg lama dan rumit. Nah, kalo si teteh beli tenun, saya beli kopi bubuk dan madu hutan yang rasanya legit tanpa tandingan.

Kain Tenun Ikat Manggarai Flores

Kain Tenun Ikat Manggarai Flores

Puas belanja di pasar, team explorer Nescafe Journey langsung cuss turun gunung kembali ke Labuan Bajo. Jalanan sempit diantara tebing dan jurang sepanjang +/- 130 Km mau tidak mau harus kami susuri kembali. Kecepatan minibus rata-rata 20 km/jam. Karena, kalau ngebut dikiiit aja, nyawa taruhannya!! Alhasil, yaudah enjoy aja trip nya. Lagian pemandangan selama perjalanan juga indah. Sawah berbentuk jaring laba-laba banyak dijumpai di sepanjang perjalanan. Tanah adat ini disebut “Lingko” di Manggarai. Tanah adat dimiliki secara komunal untuk pemenuhan kebutuhan bersama. Warisan budaya leluhur ini telah tercatat sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Namun sayang, saat kami melintas sebagian besar sedang mengering, jadi hanya terlihat pematang sawah nan luas yang membentuk jaring laba-laba. Kalau next ada yang ingin melihat formasi sawah unik ini, datang saja ke daerah Cancar. Katanya, Cancar adalah the best spot to enjoy the spectacular view of Lingko.

Selama perjalanan tak jarang pula kami berpapasan dengan anak-anak flores yang sedang membawa ember & jerigen berisi air bersih yang baru saja mereka ambil dari sungai/mata air yang jaraknya ujubilah jauhnya dari rumah. Tapi tak nampak sedikitpun kelelahan di wajah mereka, canda tawa riang tetap menghiasi hari-hari mereka meski hidup di lingkungan yang kurang bersahabat. Sebuah pelajaran dari kearifan lokal masyarakat Flores untuk tetap semangat menjalani hidup bagaimanapun keadaannya.

Bersama pak Condo di Labuan Bajo

Bersama pak Condo di Labuan Bajo

Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya sampailah kita di Labuan Bajo. Kapal yang kami pesan sebelumnya ternyata sudah menunggu di dermaga. Pak Condo sang pemilik CN Dive Komodo menyambut hangat. Beliau ternyata berasal dari Purwokerto yang sudah 30 tahun “bertapa” disini karena jatuh cinta dengan keindahan Taman Nasional Kepulauan Komodo. Begitu loading barang selesai, tarik jangkar, berangkat lah kami melaut, mengarungi tenangnya laut Tn Kepulauan Komodo dibawah temaram senja di ufuk barat. Semburat merah, jingga dan biru berpadu menyatu di cakrawala, menyelimuti pulau-pulau kecil yang “mengapung” diatas birunya laut. Tuhan Maha Kuasa!!

Ingin Liburan? Dapatkan travel deals terbaru di Wego.co.id !!

Sunset di Perairan TN Komodo Flores

Sunset di Perairan TN Komodo Flores

Gugusan pulau-pulau kecil seolah menyapa. Setelah hampir 1 jam kapal melaju, kami sampai di Pulau Kalong untuk melihat fenomena alam yang fenomenal. Setiap senja ribuan kelelawar/kalong terbang dari sarangnya mencari makan ke daratan Flores. Suasana mistis sangat terasa ketika detik-detik satu persatu kalong terbang membelah langit jingga kepulauan Komodo. Sunyi, sepi, angin semilir dan sesaat kemudian… seperti saling memberi kode, mulai dari puluhan, ratusan.. dan brrrrr.. ribuan kalong tiba-tiba muncul dari tengah rimbunnya hutan bakau pulau kalong. EPIC!! Sayap-sayap lebarnya terkepak mengembang laksana vampire yang haus darah (lebay). Kami hanya bisa melongo menyaksikan fenomena alam ini. Pertanyaan besarnya adalah, sudah adakah pihak yang melakukan sensus kelelawar di Pulau Kalong ini? Siapakah nama mereka satu persatu? #SeriusNanya #KemudianDitonjokBatman

Pulau Kalong TN Komodo

Saat Kelelawar Meninggalkan Pulau Kalong TN Komodo

Disaat kalong masih beterbangan seakan tiada habisnya, kami kemudian bergerak pindah ke perairan yang sepi dari jalur pelayaran di dekat sebuah pulau tak berpenghuni. Setelah lempar djangkaru, (#ehh… #typo sebelum digampar Teteh) lempar jangkar maksudnyaaaa, kami berbagi tugas. Om Adhe & crew kapal memancing di haluan. Saya bagian membersihkan ikan + dibikin fillet. Teh Riyanni & Nisa bagian goreng ikan. Meanwhile, Bang Pelan sibuk mondar mandir ke haluan-buritan dengan kameranya untuk merekam setiap moment. Chemistry diantara kami berlima langsung terbangun sejak hari pertama. Jadi untuk urusan teamwork, lantjar djaja. Best travel mate 😀

Kapal Pesiar di Perairan TN Komodo

Makan malam bersama diatas kapal yang terapung in the middle of nowhere, dibawah kerlip bintang ditemani semilir angin laut menambah nikmat makan malam kami. Nasi tim yang agak mengerak dan gosong, ditemani ikan kerapu goreng saus mangga “Sak Karepmu” ala chef Riyanni & Chef Nisa langsung ludes. Lantunan lagu-lagu reggae dari playlist Om Adhe menambah semarak suasana kapal di tengah laut Komodo yang sunyi ini. Wooyooooo!!

Sungguh, tadinya hanya ada dalam angan² saya, berlayar di perairan Taman Nasional Komodo, live aboard, menikmati mistisnya sunset, mancing malam-malam, masak dan bikin rujak di kapal, nyanyi² hahahihi, tidur terapung di dalam deck kapal dan paginya menikmati hangatnya sunrise dari balik perbukitan Flores, Oh… Subhanallah. Angan yang telah lama terpendam itu akhirnya terwujud secara tidak diduga lewat Nescafe Journey. So, keep dreaming guys!!

To Be Continued

Advertisements

5 thoughts on “Nescafe Journey – Team Explorer [Day 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s