Nescafe Journey – Team Explorer [Day 6]


The Hidden Paradise in Kupang

Sunset dari Atas Bukit Kupang

Sunset dari Atas Bukit Kupang

Ruang boarding bandara Mali yang hanya sebesar rumah kontrakan ini penuh sesak oleh penumpang yang akan menuju Kupang. Bagasi-bagasi penumpang masih berserakan di lantai. Kursi yang tersedia tidak mencukupi untuk semua calon penumpang mendapatkan tempat duduk. Tapi meskipun infrastruktur seadanya, pemeriksaan keamanan disini lebih ketat dibandingkan bandar udara Komodo di Labuan Bajo. Mesin detektor dijalankan dengan semestinya. Inilah yang kami temui begitu sampai dan masuk ke ruang tunggu bandara setelah diantar Om Kris ke bandara. Ya, kami harus meninggalkan pulau Alor pagi itu

Sambil menunggu boarding, kami keluar menuju sebuah warung kecil di pojok parkiran bandara. Nggak sengaja ketemu lagi dengan Prisia Nasution, aktris cantik yang wara wiri di layar FTV dan juga pemeran tokoh Srintil di film “Sang Penari”.  Dua malam sebelumnya kami juga bertemu dengan Pia di homestay saat dia menyambangi Teteh. Selama di Alor dia diving di sekitar Pulau Kepa, sementara kami di Pulau Pura. Team kami ini beruntung banget, ketemu orang-orang special dengan cara yang tidak terduga selama journey.

Longing for a vacation? Get the latest travel deals from Wego.com here!

With Prisia Nasution in Alor

With Prisia Nasution in Alor

Pesawat perintis menjadi satu-satunya pilihan transportasi cepat menuju Kupang. Melintasi selat Ombai, dari jendela sebelah kiri akan terlihat sebagian negara tetangga kita, Timor Leste. Setelah 45 menit akhirnya kami mendarat di Kupang dan langsung cek in di Lumba-Lumba Motel. Letaknya di pinggir pantai dan rate per malam nya sangat terjangkau. Saat kami tempati, bangunan motel ini relatif masih baru. Bahkan TV di kamar pun belum terpasang. Akhirnya dipasang dadakan oleh para pekerjanya. Lumayan, dapet TV baru hehe.

Setelah makan siang yang brutal di resto Taman Laut Kupang, kami lantas melanjutkan perjalanan menyusuri jalan berkelok mendaki bukit diatas kota Kupang menuju Crystal Cave. Sebuah gua kecil yang di dalamnya terdapat mata air yang sangat jernih. Sekitar 1 jam perjalanan menuju ke gua ini dari Kota Kupang. Crystal Cave sudah masuk ke wilayah Kab Kupang. Tidak mudah untuk menemukan gua ini. Saat saya kesana, tidak ada penunjuk arah atau sign apapun yang menunjukkan keberadaan  ke gua ini. Hanya orang-orang lokal yang tahu. Memasuki gang kecil, tiba-tiba mobil kami berhenti di tengah-tengah sebuah padang batu karang yang gersang. Batu-batu karang yang telah menjadi fosil, menghitam dan tajam ujung-ujungnya.

Padang Fosil Karang - Crystal Cave

Padang Fosil Karang – Crystal Cave

Berjalan dibawah terik matahari yang menyengat menyusuri padang karang ini cukup melelahkan. Dugaan saya, mungkin jaman dulu bukit ini adalah bagian dari lautan. Terbukti dengan fosil coral yang banyak ditemukan di sana-sini (sok² jadi Arkeolog). Sekitar 100 meter berjalan kami sampai di mulut gua. Sempit, gelap, pengap, licin dan jalur turunnya lumayan vertikal. Kepleset dikit, pantat kita bakal nancep di bebatuan karang itu haha. Namun begitu sampai di dasar gua, rasa capai langsung hilang, kolam air bening kebiruan tertimpa cahaya matahari yang menerobos bebatuan berkilau sebening kristal, seolah mengajak orang yang melihatnya untuk langsung mandi. Sayang, saya tidak berhasil mendapatkan foto kolam itu, karena keterbatasan alat dan kondisi. Batuan karst kaya mineral menjadi dinding alam crystal cave. Meskipun awalnya sempat merinding ketika masuk gua ini karena terkesan spooky, akhirnya nyebur juga. Inilah surga tersembunyi yang kami cari di Kupang, gua kristal namanya.

Mata air Crystal Cave merupakan cadangan air bagi sebagian besar masyarakat Kupang. Jadi, make sure jangan sampai buang sampah dan bahkan kencing saat berenang hehehe. Mari kita jaga sumber daya hayati yang ada. #SaveWater. Foto dibawah hasil jepretan Mbak Endah ketika kami berendam di ceruk sempit sebelah kolam utama. Thanks ya udah motretin Team Explorer Nescafe Journey formasi lengkap hehe.

Crystal Cave Kupang

Crystal Cave Kupang

Puas mandi-mandi di dalam gua dengan air sebening kristal, kami kemudian naik lagi ke atas bukit untuk menikmati moment sunset di atas bukit dibalik pelabuhan kapal ferry Kupang. Tapi ya namanya genk caur, bukannya khidmat menikmati moment sunset, yang ada malah bercanda gak karuan sampai lempar-lemparan kerikil segala. (curhatan sebagai korban dirajam kerikil, sigh) Bisa dibayangin lah, gimana rasanya jalan sama Teteh satu ini. Adaaaaaa aja kejadian dan obrolan seru yang mewarnai perjalanan kami. Akhirnya menjelang sunset, nggak tau karen capek atau kesambet jin sana, tiba-tiba kami semua terdiam di posisi sendiri², berkontemplasi, menyadari bahwa moment-moment kebersamaan kami akan segera berakhir. Drama post vacation syndrome…

Kena Post Vacation Syndrome

Kena Post Vacation Syndrome

Kelar menikmati sunset, kami kembali ke pusat kota. Karena duit masih segepok (duit monopoli maksudnyah), jadilah kita belanja souvenir khas NTT di Jl Siliwangi Kupang, dekat terminal. Beuhh langsung deh pada kalap disini. Pernak pernik khas Flores-Timor memberikan inspirasi pada Nisa untuk menyalurkan hobinya membuat aksesoris. Sementara teteh & om Adhe nunggu di Kampung Solor sambil pesan makan malam.

Kampung Solor adalah pasar malam nya Kupang. Letaknya ada di Jl Garuda, termasuk wilayah Teluk Kupang bagian barat. Aneka macam seafood dan jajanan ada disini. Masyarakat Kupang biasa nongkrong & menghabiskan malam nya dengan makan dan berkumpul di Kampung Solor. Nongkrong disini seru, apalagi pas malam minggu. Pesta seafood sampai puassss !!

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s