Optimalisasi Sumber Daya, Strategi Pemasaran Wisata Yogyakarta


Optimalisasi Sumber Daya, Strategi Pemasaran Wisata Yogyakarta

Yogyakarta sebagai provinsi di Indonesia yang berstatus Daerah Istimewa memang memiliki banyak keistimewaan. Tentu saja status ini tidak dapat lepas dari sejarah panjang perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia pada masa lalu. Dengan menyandang gelar sebagai “Daerah Istimewa” sebenarnya sudah merupakan sebuah kekuatan tersendiri bagi Provinsi Yogyakarta. Ada sebagian masyarakat Indonesia, bahkan dunia, tentu akan bertanya, apa istimewanya Yogyakarta? Sampai-sampai diberikan gelar yang berbeda dengan propinsi yang lain di Indonesia. Disinilah titik awal bagi semua stakeholder industri pariwisata untuk memulai promosi Yogyakarta.

Secara geografis Yogyakarta tidak terlalu luas apabila dibandingkan dengan propinsi lain. Terdiri dari 5 daerah tingkat II yaitu Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo yang masing-masing daerah memiliki berbagai macam potensi wisata yang dapat terus dikembangkan. Mulai dari wisata geologi dan vulkanologi di Gunung Merapi, wisata agro di lereng Gunung Merapi, wisata sejarah di Candi Prambanan, Ratu Boko dan sekitarnya, wisata keluarga di Kaliurang, wisata belanja di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo, wisata budaya di Keraton Kasultanan dan Pakualaman, wisata kerajinan di Bantul, wisata karst di Gunung Kidul, wisata pantai di pesisir selatan, sampai wisata seni di berbagai museum dan galeri seni yang tersebar seantero Yogyakarta. Lengkap bukan?

Industri pariwisata cukup kompleks karena melibatkan banyak stakeholder di dalamnya. Mulai dari pemerintah, swasta dan masyarakat semua terlibat. Namun terkadang ada beberapa pihak yang belum dapat bersinergi dalam misi pengembangan pariwisata. Sehingga sumber daya pariwisata yang dimiliki masih belum dapat dioptimalkan pengembangannya. Sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat yang potensial dan dapat dikembangkan menjadi objek wisata. Pengembangan objek baru sangat diperlukan guna menambah destinasi alternatif bagi para wisatawan agar tidak menimbulkan kejenuhan. Objek wisata tidak harus selalu berupa tempat atau situs. Tapi juga bisa berupa kegiatan atau aktivitas menarik yang bisa mengangkat nilai-nilai kearifan lokal.

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam urat nadi perekoniman suatu daerah. Karena, pariwisata menjadi salah satu penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD), dalam hal ini Propinsi Yogyakarta. Apabila PAD meningkat, secara tidak langsung kesejahteraan masyarakatnya juga akan membaik. Bagaimana cara agar pendapatan dari sektor pariwisata dapat meningkat? Salah satu faktor penentunya adalah jumlah kunjungan wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Untuk dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, para stakeholder dunia pariwisata harus bersinergi dalam menjalankan manajemen wisata dan menerapkan strategi pemasaran yang inovatif.

Kompleks Candi Prambanan

Kompleks Candi Prambanan

Untuk menarik minat kunjungan wisatawan ke Yogyakarta perlu dilakukan analisa mendalam faktor internal dan eksternal guna evaluasi program yang selama ini sudah berjalan. Perbaikan sektor transportasi dan akomodasi juga mutlak dilakukan. Namun kali ini saya hanya ingin menekankan pada beberapa sektor yang terkait dengan optimalisasi sumber daya dan strategi promosi saja. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik ke Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, dapat dilakukan dengan beberapa hal seperti:

  • Information Center

Penambahan dan optimalisasi booth-booth pusat informasi wisata di ruang sarana publik seperti di bandara, terminal, stasiun, pusat perbelanjaan, pasar dan di lokasi objek wisata tentu akan sangat membantu para wisatawan. Disinilah biasanya para wisatawan mencari informasi. Tidak hanya flyer dan brosur gratis yang ditawarkan di booth tersebut. Namun juga informasi lengkap shuttle yang menyediakan jasa mengantarkan ke objek wisata seperti rute bus khusus wisata dengan sistem hop on hop off antar objek di sekitar Yogya, informasi sarana akomodasi seperti hotel, hostel dan homestay yang sedang menerapkan rate harga promosi, dan menyediakan sample tester jajanan khas Yogya dalam ukuran mini seperti geplak, bakpia, yangko, gula kacang, dll. Staff nya pun harus memiliki standar layanan service excellence dan bisa menguasai bahasa inggris dengan baik. Lebih bagus lagi jika bisa menguasai bahasa asing lain agar mempermudah komunikasi dengan wisatawan mancanegara.

  • Segmentasi Wisatawan

Wisatawan yang datang berkunjung ke Yogyakarta memiliki berbagai macam karakter dan tujuan. Mulai dari kalangan jet set yang tidak pernah memikirkan masalah biaya, sampai kaum backpacker/budget traveler yang punya prinsip senang-senang dengan biaya seminimal mungkin. Semuanya harus dipikirkan oleh pelaku industri pariwisata agar mendapatkan kepuasan masing-masing. Kepuasan wisatawan adalah kunci dari industri pariwisata. Apabila para wisatawan merasa puas atas segala aspek penunjang ketika berkunjung Yogyakarta, otomatis dia memiliki kesan positif terhadap kota ini. Seringkali mereka akan menceritakan perjalanannya dan memberikan rekomendasi kepada keluarga, teman dan kolega. Kekuatan promosi mulut ke mulut terbukti menjadi sarana paling ampuh untuk mempengaruhi orang.

  • Kuliner

Yogyakarta memiliki banyak warisan kuliner yang menggugah selera. Ini merupakan salah satu potensi besar yang bisa diandalkan untuk mengundang para wisatawan. Diperlukan pengemasan yang berbeda dan unik dari biasanya. Misalnya dengan cara menutup sepanjang jalan Malioboro atau jalan Mangkubumi bagi kendaraan dan kemudian digelar festival kuliner di sepanjang jalan tersebut. Semua jajanan mulai dari gudeg, sate klatak, brongkos, oseng-oseng mercon, thiwul, geplak, cenil, lopis, dll ada disitu. Bahkan menjadi sangat seru apabila pabrik bakpia dadakan, dipindah ke arena tersebut. Wisatawan dan masyarakat diajak untuk turut serta dalam membuat bakpia, lalu menikmatinya selagi hangat dari oven.

Atau bisa juga dengan mengadakan “Prameks Culinary Festival”. Festival wisata kuliner di dalam kereta Prambanan Ekspress. Kegiatan yang unik dan menarik. Karena kereta Prameks merupakan salah satu ikon transportasi Yogyakarta yang sudah melegenda, tidak ada salahnya jika mengoptimalkan penggunaannya bukan hanya sebagai sarana transportasi semata, namun juga sekaligus sebagai sarana promosi pariwisata. Kedepannya, festival semacam ini dapt dilaksanakan secara rutin dan dimasukan dalam agenda wisata tahunan. Dengan adanya festival kuliner di dalam kereta Prameks, diharapkan mampu menjadi satu agenda tersendiri guna menarik minat wisatawan untuk menikmati Yogyakarta dengan cara yang lain dan unik.

Gudeg Yogya

Gudeg Yogya

Pemerintah melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan pemerintah daerah, juga harus berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat sekitar. Misalnya dengan mengadakan program “Cooking Class” di rumah-rumah warga yang lokasinya berdekatan dengan objek wisata. Para ibu rumah tangga diberdayakan untuk menghandle program ini. Wisatawan yang datang berwisata ke objek tersebut, ditawarkan juga untuk mengikuti program cooking class. Mereka diajak terlibat membuat masakan khas Yogya. Bayangkan bagaimana serunya ketika para Bule memarut kelapa dan memeras santan untuk memasak Gudeg,  Sambel Krecek dan Telur Bacem. Bayangkan ekspresi para bule itu kesusahan menelan Cenil, jajanan pasar yang gurih dan kenyal. Kemudian, bayangkan juga bagaimana raut muka mereka ketika kepedasan makan oseng-oseng mercon hasil karya mereka sendiri di cooking class. Program seperti ini tentu akan sangat berkesan bagi para wisatawan yang mengikutinya. Selain itu juga bisa membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal untuk berwirausaha.

  • Paket Wisata Unik

Orang berwisata rata-rata tujuannya adalah untuk merasakan sesuatu yang baru dan berusaha keluar dari rutinitasnya. Mereka juga senang terlibat dalam sebuah ritual atau budaya yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Salah satu kegiatan yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan program “Temple Stay”. Memanfaatkan status Candi-candi yang sudah terdaftar sebagai situs warisan budaya dunia di UNESCO, pasti akan menjadi nilai lebih dari kegiatan ini. Teknis pelaksanaanya, wisatawan diajak untuk merasakan kehidupan para bhiku yang sedang menjalankan aktifitas kesehariannya selama beberapa hari. Mulai dari aktifitas menjelang pagi ketika para bhiku bangun pagi dan berjalan kaki dalam gelap menaiki tangga-tangga batu andesit yang kokoh menuju puncak Candi Borobudur untuk ritual meditasi pagi sebelum sunrise. Dilanjutkan dengan Pindapatta ke warga sekitar, belajar di perpustakaan vihara Candi Mendut, bhakti sosial, memasak makanan vegetarian, meditasi menjelang sunset di kompleks Candi Ratu Boko, sampai kegiatan terakhir yaitu tidur. Program ini bertujuan untuk membuka mata hati dan pola pikir para wisatawan yang terlibat akan beragamnya aktifitas orang di dunia ini. Mereka diajak untuk lepas dari pola hidup sehari-harinya. Melakukan hal-hal yang berbeda dan belajar menghargai sesama.

Pindapatta - Giving Alms

Prosesi Pindapatta

Paket wisata unik yang lain, yang bisa diselenggarakan adalah “Mystical Imogiri” misalnya. Wisatawan mancanegara diajak untuk merasakan menjadi juru kunci kompleks makam Imogiri. Dengan mengenakan pakaian adat jawa lengkap, mereka dilibatkan dalam prosesi merawat makam, bersih-bersih, sampai ritual-ritual yang biasa dilakukan di kompleks Imogiri. Tentunya sambil diberikan penjelasan terkait sejarah dan mitos yang ada agar wawasan para wisatawan bertambah setelah mengikuti paket tersebut. Ritual eksotisme seperti ini sangat menggugah minat wisatawan luar negeri untuk berkunjung dan menikmatinya.

Paket lain adalah dengan mengajak wisatawan yang suka dengan dunia seni untuk bergabung dalam paket “Artistic Yogya”. Mereka diajak langsung menjadi “seniman dadakan” di Yogyakarta. Bisa beragam paket tergantung dari minat masing-masing wisatawan. Berlatih seni tari jawa klasik di keraton, seni rupa di kasongan, seni teater & pementasan di pertunjukan Ramayana Ballet Prambanan, atau juga bisa diajak ke kawasan Pabelan, Muntilan untuk belajar membuat patung candi Borobudur dari batuan andesit. Setelah fokus terlibat dalam pembelajaran berbagai macam paket seni tersebut, para wisatawan diajak terlibat dalam pementasannya. Atau kalau yang memilih seni rupa, hasil akhir pahatan mereka dapat dibawa pulang sebagai cinderamata.

Belum banyak memang, wisatawan yang tertarik untuk terlibat langsung dengan program seperti ini. Karena berhubungan dengan length of stay. Namun, apabila program seperti ini dapat dikembangkan dengan optimal, maka dampak yang akan didapatkan pun juga akan maksimal. Setelah pulang dari Yogya, para wisatawan tersebut akan membawa kenangan manis da kemudian diceritakan kepada teman atau saudaranya di negeri asal mereka. Dengan begini, promosi wisata secara berkesinambungan dapat terus dijalankan.

  • Membangun dan Menghidupkan Kampung Adat

Kalau di Bali ada desa adat Bali Aga, di Lombok ada Desa Adat Sade suku Sasak, di Jakarta ada Kampung Betawi di kawasan Situ Babakan, maka sudah selayaknya pula di Yogyakarta ada sebuah kampung adat seperti di daerah-daerah tersebut. Suku Jawa terkenal akan adat istiadatnya yang adiluhung. Namun sangat disayangkan, kemajuan jaman menggerus setiap lahan yang ada di Yogyakarta sampai-sampai kampung dan sawah kini menjadi hutan beton kompleks perumahan. Sampai saat ini belum ada kampung adat yang otentik dengan budaya Jawa di Yogyakarta dan sekitarnya. Sebuah kampung dengan rumah-rumah joglo yang berjajar rapi, halaman berpasir yang rimbun pohon buah-buahan, pendopo kau jati dan lampu gantung, masih ada sawah menghijau di sekitarnya, masyarakat yang ramah, murah senyum dan gotong royong, penduduknya mengenakan baju lurik dan kebaya, serta masih memegang teguh aneka prosesi adat jawa dalam kesehariannya. Mungkin terdengar utopis, namun sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin untuk mewujudkannya apabila ada niat dan kerjasama diantara banyak pihak yang terkait baik pemerintah, akademisi, investor dan masyarakat. Pada umumnya wisatawan sangat tertarik dengan adat istiadat setempat. Objek seperti ini menjadi daya tarik utama. Kalau memang belum memungkinkan membangun desa adat baru, ide ini dapat diterapkan dengan menghidupkan dan mengoptimalkan kawasan Kota Gede dengan inovasi dan renovasi sesuai konsep. Bangunan-bangunan kuno disana menambah value objek wisata ini. Atau jika memang akan dirintis dari awal membangun sebuah kampung adat, mungkin bisa dilakukan di daerah Sleman dimana masih banyak lahan hijau yang memenuhi syarat untuk pembangunan kampung adat ikon Yogyakarta.

  • Sister City & Direct Flight

Megusung konsep kota kembar, antara Yogyakarta dengan kota yang ada di negara lain juga menjadi salah satu cara untuk promosi wisata. Yang sudah berjalan antara lain dengan Kyoto dan Suriname. Namun selama ini, masyarakat luas dan wisatawan belum merasakan dampak secara langsung atas konsep kerjasama sister city ini. Agar dapat dirasakan manfaat dan dampak secara langsung terhadap industri pariwisata, mungkin pemerintah dapat menggandeng maskapai/airlines baik dalam maupun luar negeri untuk membuka rute penerbangan langsung antar kedua daerah yang terikat dalam kerjasama sister city tersebut. Memang untuk menerapkan kebijakan seperti ini tidak mudah, diperlukan kerjasama, koordinasi dan sinergi dari semua stakeholder yang terlibat. Diharapkan dengan adanya kebijakan Open Sky pada tahun 2015 nanti bisa semakin mempermudah wisatawan untuk mengakses objek wisata di Yogyakarta melalui sarana transportasi udara.

  • Promosi

Semua ide-ide event wisata tersebut tidak akan berhasil tanpa promosi yang gencar dan efektif. Faktor promosi menjadi kunci utama proses tersebarnya sebuah informasi wisata. Beragam cara promosi dapat dilakukan. Cara mainstream dengan menggunakan jasa media massa baik lokal maupun nasional. Namun seiring dengan perkembangan jaman, di era global seperti sekarang, dimana pergaulan tidak hanya dilakukan di dunia nyata saja, dunia social media seperti twitter, facebook, pinterest, youtube dan lain-lain juga dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan event dan spot wisata Yogyakarta.

Cara promosi yang lain adalah dengan mengoptimalkan peran para Duta Wisata yang sudah terpilih baik di tingkat kota kabupaten maupun provinsi. Pemuda-pemudi yang terpilih tentu saja mereka yang berkompeten dan memiliki komitmen di dunia pariwisata. Namun terkadang mereka hanya menjadi simbol seremonial belaka. Terkadang haya diminta menjadi pembawa baki dalam acara-acara protokoler. Atau hanya menjadi mannekin berselempang yang “dipajang” di mobil hias karnaval. Saya yakin, sebenarnya mereka ingin melakukan lebih dari itu. Mereka adalah pemuda-pemudi potensial milik Yogyakarta yang dapat dimanfaatkan guna pengembangan wisata. Mungkin bisa dimulai dengan himbauan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta kepada anggota paguyuban agar masing-masing duta wisata memiliki blog pribadi yang berisi tentang kepariwisataan Yogyakarta dan sekitarnya, dalam sudut pandang mereka masing-masing, serta aktif dalam pergaulan dunia maya dengan forum traveling. Meskipun sepertinya hal kecil, ini akan menjadi langkah nyata promosi wisata Yogyakarta.

Mengajak para travel blogger baik dari negeri sendiri ataupun dari mancanegara untuk berwisata di Yogyakarta dan kemudian menuangkan jurnal perjalannnya dalam bentuk artikel, foto dan video akan menjadi salah satu cara promosi yang efektif. Di era digital saat ini, referensi tempat dan agenda wisata menjadi krusial bagi seseorang yang akan berangkat berwisata. Melalui kerjasama dengan para travel blogger, para pelaku industri pariwisata Yogyakarta dapat membangun pencitraan positif sekaligus promosi wisata di dunia maya dalam jangka yang panjang.

Stupa Candi Borobudur

Stupa Candi Borobudur

Semoga dengan beberapa terobosan, inovasi, promosi dan optimalisasi sumber daya pariwisata yang dimiliki oleh Yogyakarta dan sekotarnya, dapat menimbulkan minat para wisatawan untuk berkunjung ke Yogyakarta. Peran serta aktif dan sinergi dari para stakeholder, pemerintah, swasta dan masyarakat menjadi kunci sukses promosi pariwisata. Penyamaan visi dan misi diantara para pelaku industri pariwisata akan mempermudah proses pengembangan industri pariwisata Yogyakarta.

Salam wisata.

Advertisements

10 thoughts on “Optimalisasi Sumber Daya, Strategi Pemasaran Wisata Yogyakarta

  1. Postingan yang briliant !! Dinas Pariwisata DIY harus tahu artikel ini, agar bisa menjadi bahan kajian peningkatan kunjungan wisman.

  2. mas fahmi, kayaknya aku ngangguk-ngangguk baca tentang pariwisata jogja yang maju, tetapi sayangnya tempat wisata jogja yang belum terkenal jarang di expose media di Indonesia.

    • Sesuai dengan judul artikel ini mas, “Optimalisasi Sumber Daya”, sebenarnya potensi wisata buanyak, namun memamng belum di optimalkan saja. Mari kita ceritakan kpd dunia potensi yg belum ter-explore ini 🙂

  3. Konsep pendekatan dengan maskapai untuk membuka international direct flight route ke Jogja harus didukung. Terlebih, dengar-dengar sedang dibangun airport baru di Kulon Progo yang lebih representatif. Semoga kedepan, industri wisata Jogja semakin berkembang dengan identitas “njawani” nya yg mendunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s