Cerita Dari Selatan Indonesia


DIVEBLOG DIVEMAG INDONESIA

Local Wisdom Masyarakat Desa Abila, Pulau Pura, Alor ~ Coastal Life

Teluk Mutiara - Kalabahi - Alor

Matahari pagi masih tampak malu-malu ketika kapal Theodoras angkat jangkar dari dermaga Kalabahi menyusuri Teluk Mutiara yang tenang tak bergelombang. Kapal bergerak perlahan membelah kabut tipis yang masih mengambang diatas permukaan laut. Semilir angin menerpa wajah-wajah sayu karena kurang tidur semalam. Bersantai di haluan kapal sambil ditemani secangkir kopi Flores… moment ini terasa begitu sempurna. Tujuan pelayaran saya dan teman-teman kali ini adalah diving dan snorkeling di sekitar Pulau Pura. Sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Selat Pantar, Alor, Nusa Tenggara Timur.

Dermaga Desa Abila Alor

Dermaga Desa Abila, Pulau Pura, Alor

Paradise Point menjadi dive spot pertama. Terletak tak jauh dari dermaga desa Abila, Pulau Pura bagian utara. Sementara teman-teman diving, sambil menunggu giliran discovery dive saya memilih untuk snorkeling di sekitar dermaga. Visibility bawah laut yang mencapai 20 meter membuat saya bisa melihat kontur tebing karang yang menghunjam kokoh sampai dasar. Coral fish warna-warni seperti nemo, regal tang, angel fish, parrot fish, lion fish, dll seolah mengajak bercanda, berenang bebas kesana kemari sambil grazing. Densitas di spot ini relatif masih bagus dan rapat. Saya seperti memasuki sebuah dimensi lain yang jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Snorkeling mengikuti arus laut kencang di Selat Pantar yang merupakan pertemuan arus dari laut Sawu dan Banda sangat mengasyikkan. Saking terpananya melihat keindahan taman bawah laut Alor, ternyata saya sudah berada jauh dari dermaga. Dan untuk kembali ke dermaga harus berenang  melawan arus yang pastinya… Pe-eR banget!! [baca: ngos-ngosan]

sopi, moke, alor, tuak, minuman tradisional

proses pembuatan sopi, minuman khas Alor

Usai snorkeling, saya istirahat sambil berbincang dengan penduduk Desa Abila di sekitar dermaga. Sempat diajak jalan-jalan keliling kampung dan bertamu ke rumah salah seorang tokoh adat yang ternyata sedang membuat Sopi, minuman tradisional khas Alor. Sopi atau biasa juga disebut Moke, merupakan hasil penyulingan air nira pohon lontar yang dicampur dengan ramuan tertentu. Yaa sejenis tuak lah. Hati-hati, karena kadar alkoholnya lumayan tinggi.

Perairan Selat Pantar Alor NTT

Perairan Selat Pantar Alor

Kontur perbukitan kapur yang agak gersang terlihat sangat kontras dengan birunya perairan laut Alor. Jalan setapak mengular menanjak menghubungkan rumah-rumah penduduk yang menjulang diatas tebing menghadap laut. Masyarakat disini hidup secara komunal dalam desa-desa kecil dan terpisah. Dan, satu hal yang sempat membuat saya terkejut adalah babi-babi hidup bebas di jalanan kampung maupun pekarangan rumah. Ternyata, warga sekitar tidak menerapkan ternak dengan sistem kandang, tetapi dibiarkan bebas… rada serem juga sih. Kan nggak lucu kalau lagi jalan santai tiba-tiba nginjek “anunya” si babi hehehe…. #ambigu #abaikan

Babi di Pulau Pura Alor

ngok!! ngok!!

Masyarakat Desa Abila, Pulau Pura, Alor selalu menyadari bahwa ditakdirkan hidup di pulau kecil dan jauh memang tidak mudah. Sangat bergantung pada kondisi dan potensi alam. Air tawar relatif sulit didapat. Sumur-sumur kecil dibuat tak jauh dari bibir pantai untuk menampung air hujan dan rembesan dari atas bukit. Saya sempat membantu seorang anak kecil yang sedang menimba air di sumur yang ternyata cukup dalam. Airnya tak terlalu jernih & rasanya pun agak asin. Pohon asam jawa yang banyak tumbuh juga dimanfaatkan buahnya untuk dikeringkan dan dijual sebagai komoditas tambahan ketika musim angin barat datang.

sumur di Desa Abila Alor

sumur di Desa Abila

Demi keberlangsungan hidup, mereka memanfaatkan sumber daya yang ada. Untuk urusan perut, mereka pergi melaut. Menangkap ikan dengan cara memancing, menjaring, menombak, bagan apung ataupun menggunakan bubu. Alat bantu menangkap ikan tersebut relatif ramah lingkungan. Namun, yang terkadang menjadi permasalahan adalah cara menggunakan alat-alat tersebut. Karena Bubu hanya terbuat dari anyaman bambu, maka perlu pemberat atau penyangga, agar posisinya stabil didaerah karang, lokasi peletakan didaerah karang tentu rawan sekali mematahkan karang. Nelayan yang belum memiliki wawasan lingkungan yang baik biasanya menggunakan karang sebagai pemberat dan penyangga bubu, mereka mengambilnya langsung ketika memasang bubu, dan meletakkannya didaerah yang karangnya masih sehat karena ikannya lebih banyak. Tak jarang, bukan hanya ikan konsumsi yang terjebak dalam bubu, namun ikan-ikan hias nan cantik pun seringkali ikut terperangkap. Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah saat pengambilan bubu dari dasar laut. Nelayan terkadang menarik bubu dengan tali dari permukaan laut secara vertikal. Karang-karang yang berada di sekitarnya pun bisa patah. Padahal dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa tumbuh lagi. Menyedihkan.

Bagan Apung di Teluk Mutiara Alor

Bagan Apung di Teluk Mutiara Alor

Tapi, tidak semua nelayan di sekitar Selat Pantar Alor seperti itu. Kini sudah banyak diantara mereka yang teredukasi dan sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan. Beberapa kelompok masyarakat disini sudah sadar apabila habitat ikan rusak pada akhirnya akan mempengaruhi hasil tangkapannya. Dan berdasarkan informasi dari masyarakat Desa Abila, sekarang bahkan ada aturan desa yang membagi daerah peletakan bubu di sekitar perairan Pulau Pura sehingga lebih adil.

Mereka hidup dalam keterbatasan, jauh dari kota dan modernisasi, namun tetap arif dan bijaksana dalam menjalani hidup. Banyak pelajaran & local wisdom yang saya dapat dari kehidupan masyarakat pesisir di sebuah pulau kecil di selatan negeri ini.

32 thoughts on “Cerita Dari Selatan Indonesia

  1. Bagus banget artikelnya. Semoga para nelayan itu diberi edukasi tentang wawasan lingkungan sehingga ga semakin ngrusak laut. Hal seperti ini nih yang harusnya dijadiin perhatian pemerintah. Nice one 🙂

    • thanks Aggy, we hope so :). semoga surga bawah laut Alor & Indonesia pada umumnya bisa terjaga seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

      *berasa kaya pidato menteri lingkungan hidup*

  2. Ya ampun itu warna air di Selat Pantar :O
    Btw, ekspresi anak kecil itu priceless banget loh. Kira-kira apa yg ada di pikirannya : “si masnya mau nimba aja pake pose dan sunglasses segala ih”…mungkin.

  3. oh, semacam keramba yg diletakan di laut itu namanya bubu ya
    uh lala…cetar membahana melintasi cakrawala menuju khatuliswa semesta raya alhamdulillah sesuatu

    *oopss
    *jd inget syahrini
    hahahaa
    *oot bgt*

  4. saya suka cerita-cerita di wilayah Indonesia Timur seperti ini. Berharap suatu saat bisa singgah ke sana. Terus mengeksplorasi ya Bro. Maaf, hanya bisa komentar sebatas ini, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s