Pura Gunung Kawi Yang Memikat Hati



Pura Candi Gunung Kawi Bali

Hari sudah menjelang sore ketika mobil kami beranjak meninggalkan Puri Ubud. Rencananya mau langsung pulang ke Renon karena sudah capek seharian muter di kawasan Monkey Forest Tegalalang dan Ubud. Namun di tengah jalan, tiba-tiba Khanif, sepupu saya, punya ide untuk mampir ke rumah temannya yang ada di Tampaksiring, Gianyar. Saya dan Alfin, sepupu saya yang lain, mengiyakan ajakan itu.

Tak berapa lama, kami memasuki gang kampung sempit dengan penjor di kiri-kanan jalan. Rumah-rumah khas Bali yang masih asli, pelinggih-pelinggih usang termakan cuaca berdiri kokoh di depan rumah, setia menjadi media penghantar doa. Ornamen-ornamen Pura Banjar (kampung) yang berlumut menandakan pura ini sudah berdiri sejak lama. Inilah Banjar Penaka, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Sekitar 40 Km dari Denpasar.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang asri. Seorang perempuan muda yang mengenakan kain Bali tersenyum ramah menyambut kedatangan kami. Rupanya inilah teman si Khanif. Nyoman Widanti namanya. Begitu kami dipersilakan masuk ke halaman rumah, aroma dupa menyeruak di teras, beberapa canang terserak di lantai dan pelinggih. Rupanya baru saja diadakan sembahyang sore.

alan Setapak Pura Candi Gunug KawiSetelah berbincang sejanak, Widanti mengajak kami berjalan kaki menuju sisi lain dari banjarnya. Sekitar 300 meter dari rumahnya, sebuah gerbang bertuliskan “Pura Gunung Kawi” menjadi penanda bahwa ini adalah sebuah tempat suci. Seorang penjaga memberikan selendang untuk diikatkan di pinggang sebagai penanda kami masuk ke tempat suci. Untuk menuju ke Pura Gunung kawi, kami harus melewati jalan setapak menurun diantara sawah yang menghijau. Mendekati kompleks pura, jalan setapak berbentuk seperti bukit kapur dibelah, dinding batu menjulang tinggi di kanan-kiri kami. Kata Widanti, ada 315 anak tangga yang harus dilalui untuk sampai ke pura. Lumayan ngos-ngosan juga…

Sungai Pakerisan Tampaksiring BaliSuara gemericik air mulai terdengar jelas setelah kami melewati gerbang batu yang disampingnya terdapat pelinggih tempat untuk memercikkan air suci sebelum masuk ke Pura. Sungai Pakerisan mengalir berkelok membelah kompleks Pura Gunung Kawi menjadi 2, di sisi barat & timur. Kata Widanti, sungai Pakerisan termasuk yang dikeramatkan di Bali. Begitu memandang kedepan, saya terhenyak, Pura Gunung Kawi ternyata jauh berbeda dengan yang saya bayangkan seperti pura pada umumnya. Ternyata Pura Gunung Kawi adalah sebuah kompleks Pura dari pahatan tebing batu padas dengan gaya arsitektur mirip candi khas Jawa Timur. Candi Gunung Kawi dikelilingi beberapa sumber mata air dan kolam-kolam ikan dengan pancuran yang jernih dan air yang melimpah. Situs ini merupakan salah satu situs purbakala di Gianyar.

Dengan dipandu Widanti, kami berkeliling ke open area di dalam Pura Gunung Kawi dengan melepas alas kaki. Sesekali dia bercerita mengenai sejarah Pura ini. Ia juga menjelaskan berbagai pernak pernik yang ada di kompleks pura yang biasa digunakan dalam upacara adat, beserta ritual dan prosesinya. Saat asyik jalan-jalan sambil ngobrol, kami sempat bertemu dengan seorang pedanda/pendeta, dan tanpa diduga kami diberikan kesempatan yang sangat langka, yaitu dipersilakan masuk ke restricted area. Sebuah kompleks yang dianggap tempat tersuci di Pura Candi Gunung Kawi ini. Komplek kecil diantara bangunan atap terbuka dari batuan andesit yang dipahat sedemikian rupa membentk bilik-bilik pertapaan. Ternyata komplek ini adalah cikal bakal Pura Gunung Kawi pada ratusan tahun lalu. Di dalamnya tersimpan beberapa arca dan peninggalan leluhur. Memasuki tempat ini, tiba-tiba saja saya merinding & bulu kuduk saya berdiri. Kompleks ini memancarkan aura yang begitu kuat.

Pura Gunung Kawi Bali - Pertapaan

Puas berkeliling saya mengira kami akan segera pulang. Namun ternyata, Widanti mengajak kami naik ke bukit kecil di belakang Pura Gunung Kawi. Jalan setapak licin kami daki dengan sedikit kesusahan bahkan sempat terpeleset juga. Namun semua itu terbayar dengan apa yang kami temui. Sebuah kolam alami dengan mata air yang menyembul dari dalam tanah berpasir. Di tengahnya terdapat pelinggih untuk meletakkan sesaji dan dupa. Aura mistis terasa begitu kuat di tempat ini. Hening sejenak, merasakan kedamaian yang sangat mendalam disini.

Matahari sudah agak condong ke barat saat kami kembali menyusuri jalan setapak menuju ke rumah. Di tengah jalan, Widanti berujar: “Eh, di seberang sawah dibalik pepohonan itu, ada Pura lagi loh yang khusus digunakan untuk sembahyang warga banjar sini. Mau kesana nggak?” Tanpa pikir panjang “Mauuuuuu!! Mumpung sampai sini, sekalian Mok” jawab kami kompak.

Sawah Subak di sekitar Pura Candi Gunung Kawi Bali

Rombongan belok kiri, berjalan diantara pematang sawah yang licin. Sampai di depan pintu masuk, alas kaki kembali dilepas. Bentuk Pura ini mirip dengan Pura Gunung Kawi. Berupa pahatan tebing kapur, pelinggih, bale-bale dan altar yang penuh dengan canang dan dupa yang masih mengepul. Lembab, gelap, dingin dan… lagi-lagi… merinding. Entah saya yang terlalu sensitif atau memang lokasi ini yang memang “tidak biasa”. Tak sepatah kata pun terucap disini. Semua tiba-tiba diam. Beberapa menit kemudian, datanglah serombongan anak muda dengan pakaian adat lengkap dan membawa banten. Rupanya mereka adalah anak-anak usia sekolah banjar setempat yang akan sembahyang menyambut hari Saraswati esok hari. Takut mengganggu, kami segera beringsut keluar.

Perjalanan hari itu terasa sangat berkesan, karena banyak hal yang tidak diduga menghampiri kami. Termasuk berkunjung ke spot-spot yang tidak semua orang bisa kesitu. Matur suksma buat Widanti 🙂

Longing for a vacation? Get the latest travel deals from Wego.com here!

Nah, sebagai pelengkap artikel ini, berikut sekelumit sejarah Pura Candi Gunung Kawi hasil rangkuman dari beberapa sumber :

Kompleks candi yang unik ini pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920. Sejak itu, candi ini mulai menarik minat para peneliti, terutama para peneliti arkeologi kuno Bali. Menurut perkiraan para ahli, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu. Menurut catatan sejarah, Raja Udayana merupakan salah satu raja terkenal di Bali yang berasal dari Dinasti Marwadewa. Melalui pernikahannya dengan seorang puteri dari Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni, ia memiliki anak Erlangga dan Anak Wungsu. Setelah dewasa, Erlangga kemudian menjadi raja di Jawa Timur, sementara Anak Wungsu memerintah di Bali. Pada masa inilah diperkirakan Pura Candi Gunung Kawi dibangun. Salah satu bukti arkeologis untuk menguatkan asumsi tersebut adalah tulisan di atas pintu-semu yang menggunakan huruf Kediri yang berbunyi “haji lumah ing jalu” yang bermakna sang raja yang (secara simbolis) disemayamkan di Jalu. Raja yang dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan kata jalu yang merupakan sebutan untuk taji (senjata) pada ayam jantan, dapat diasosiasikan juga sebagai keris atau pakerisan. Nama Sungai Pakerisan atau Tukad Pakerisan inilah yang kini dikenal sebagai nama sungai yang membelah dua tebing Candi Kawi tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

==========================================================

Karena goresan tinta itu lebih tajam & abadi daripada ingatan manusia, maka salah satu tujuan saya blogging adalah sebagai sarana “penyimpanan” memori & cerita perjalanan yang telah dilakukan. Postingan kali ini merupakan sebuah cerita perjalanan pada 25 Januari 2009.

Advertisements

21 thoughts on “Pura Gunung Kawi Yang Memikat Hati

  1. Aku kangen sama sawah di situ… Sejuk banget udaranya, beda sama Ubud yg sudah penuh sesak turis di tiap sudutnya.
    Joss artikelnya pak demi, mewakili perasaanku thdp Gunung Kawi juga hehe…

    • yup bener, ubud yang sekarang nggak se asyik dulu… kalau mau yg cozy kudu stay di resort² super mahal itu. semoga kawasan Pura Gunung Kawi bakal tetep sejuk & sepi

  2. Pas mbaca judulnya, kukira postingan ini bakalan membahas tentang Gunung Kawi yang di Jawa Timur, ternyata bukan 😀
    Jadi pengen ke Baliiiiiiiiiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s