My First Solo Traveling


Dalam minsdet saya, melakukan perjalanan akan lebih seru jika dilakukan dengan beberapa teman. Idealnya 2-4 orang lah. Selain ada teman ngobrol, sharing dan bercanda, kita juga bisa saling menjaga satu sama lain. Jadi nggak insecure. Namun, ternyata mindset seperti itu berubah total ketika saya melakoni Cambodia Trip pada 19-22 Mei lalu.

Awalnya, saya berencana traveling ke Kamboja bersama seorang sahabat. Namun menjelang keberangkatan ternyata dia ada halangan sehingga tidak bisa berangkat. Saya yang belum pernah solo traveling dan belum prepare apapun sempat khawatir. Bukan takut untuk jalan sendirian, namun lebih ke hal-hal kecil kaya gantian jaga tas, sharing cost tuk-tuk, dll. Dan, sampailah hari keberangkatan itu tiba. Dengan berbekal tiket Air Asia rute Jogja – Kuala Lumpur – Siem Reap – Phnom Penh PP saya berangkat sendirian. Saya bulatkan tekad, niat lillahita’ala ingin menikmati keagungan ciptaanNYA di belahan bumi lain, insya allah akan selalu dalam lindunganNYA.

Dan benar saja, trip ke Kamboja ini menjadi salah satu yang paling berkesan. Saya bertemu dengan berbagai macam karakter orang yang mewarnai perjalanan saya. Siapa saja?

1. Ha & Anh

vietnam friends

Ha & Anh – Vietnamese

Mereka berdua adalah anak muda dari Ho Chi Minh City, Vietnam. Kami bertemu secara tidak sengaja pada saat antri imigrasi di Adisucipto International Airport Yogyakarta  penerbangan ke Kuala Lumpur. Berawal dari saling senyum, kenalan, dan berakhir ngobrol di ruang tunggu. Ternyata mereka baru saja melakukan pendakian ke Gunung Merbabu & Merapi bersama beberapa teman lainnya. Heran juga, ngapain mereka jauh-jauh sampai kesini untuk naik gunung? Setelah saya tanya, ternyata karena di dekat HCMC tidak ada gunung api aktif. Ha juga bercerita ketika stay di lereng Merbabu, rombongan mereka disuguhi tarian Topeng Ireng dan sempat menari bersama. Sebelum boarding saya diberi kenang-kenangan selembar uang kertas Dong mata uang Vietnam. Saya gantian memberikan sebuah pin Wonderful Indonesia. Mereka berpesan kalau suatu saat mau ke Vietnam, jangan sungkan untuk memberi kabar ke mereka. So honored.

2. RaW ~ RambleandWander.com

klcc park

Ada yang sudah pernah buka travel blog ini? keren deh! Dan saya beruntung bisa bertemu dan belajar langsung dengan si empunya yang seorang master blogger Malaysia, ketika transit satu malam di Kuala Lumpur. Kami janjian di KL Sentral sore itu. Cerita seru mengalir begitu saja dari bang RaW. Berbagai pengalaman menarik ketika traveling keliling Eropa, naik kereta api di Myanmar, dan keramahan masyarakat Iran serta keindahan arsitektur Persia. Setelah makan, tadinya mau ke iCity di Shah Alam, namun karena cuaca mendung akhirnya kami sepakat untuk ganti destinasi tour d’ masjid #tsaaah. Sholat magrib ke Masjid Negara lanjut sholat isya di Masjid KLCC. Banyak pelajaran saya dapatkan darinya dan menambah semangat untuk terus berbagi dan berkarya lewat blog.

3. Sepasang Pengantin di KL

malaysian wedding

Selepas naik KTM di stasiun Kuala Lumpur, saya bertemu dengan sepasang muda-mudi dengan kostum pengantin melayu lagi asyik foto-foto. Awalnya saya mengira mereka sedang pre wedding, ternyata post wedding karena sudah melakukan pernikahan pada hari sebelumnya. Semoga segera ketularan mereka hehe. Etapi parahnya, udah ngobrol-ngobrol tapi lupa nanya namanya. Kebiasaan! hehe

4. Richard @ichaads

Kami bertemu di PODs Backacker Hostel, Kuala Lumpur. Anak Jakarta yang sedang eksplorasi negeri jiran selama 5 hari. Dia bercerita baru saja mengunjungi Melaka. Namun kami tidak sempat berbincang lama karena saat itu sudah tengah malam. Sementara saya harus packing karena mau early check out.

5. Daphne & Louis

Begitu landing di Siem Reap, sambil antri imigrasi saya membentangkan secarik kertas bertuliskan “Share Cost Tuk-Tuk One Day Angkor Tour” [sambil sok cuek tapi nahan malu]. Etapi bodo amat, nggak ada yang kenal juga disana hehehe. Ternyata upaya saya berhasil! Seorang cewek cantik nan ramah menghampiri saya. Daphne namanya, dari Malaysia. Dia datang ke Kamboja bersama temannya, Louis. Akhirnya kami sepakat untuk share cost. Sebelum memulai tour kami di drop ke hostel masing-masing untuk meletakkan backpack. Namun saat saya samperin ke hostelnya, seorang receptionist memberikan saya sebuah amplop yang berisi surat permohonan maaf Daphne & Louis karena mendadak ganti schedule. Selembar uang 10$ pengganti ongkos tuk-tuk dari airport terselip di dalam amplop. Well, its oke. Akhirnya saya menjadi penguasa tuk-tuk hari itu.

6. Vanny

Tuk Tuk Siem Reap

He’s my tuk-tuk driver in Siem Reap. Sebelum kesana saya sempat email ke Vanny, referensinya @arievrahman yang sudah kesini duluan tahun lalu. Umurnya sekitar 31 tahun, ramah, native & invformative jadi tidak ada masalah dengan komunikasi. Kalau mau keliling kompleks Angkor di Siem Reap bisa contact dia via email vanny.khmer1982@yahoo.com. Make sure bikin appointment dengan itinerary yang jelas untuk menentukan harga sewa tuk-tuk seharian. Average one day trip (8-12 hours) antara 15-20$ tergantung jauh dekatnya destinasi yang mau dikunjungi. Secara komplek Angkor itu segede gaban. Tapi tenang, tuk-tuk itu muat samapi 5 orang kok, jadi biaya bisa di share dengan teman-teman. Kecuali saya yang kemarin jalan sendirian ya harus ditanggung sendiri biayanya. | *meratap di pojokan angkor wat* | eh, yang perlu dicatat, seramah apapun orang sana, kalau udah kenal duit & turis tetep dong ada tricky-trickynya. So, hati², I’ll share it later on another post.

7. Para Bhisku Kecil

Angkor Wat Monks

Memasuki kompleks Angkor Wat, candi terbesar di Siem Reap, mata saya langsung tertuju ke bagian kiri. Puluhan anak-anak kecil berpakaian seperti bhiksu terlihat sedang berkumpul untuk belajar dibawah pohon. Sebagian lagi sedang bersiap untuk sembahyang di dalam Angkor Wat. Ternyata mereka juga lumayan fasih berbahasa Inggris dan menawarkan diri untuk berfoto bersama. Salah satu dari mereka dengan sukarela memegang kamera untuk mengambil foto. Sebelum memencet shutter, dia elus-elus dan agak “takjub” dengan kamera mungil saya. Geli kalau ingat ekspresi polos anak-anak itu.

8. Khim

Saat perjalanan dari Siem Reap ke Phnom Penh menggunakan midnight bus, saya duduk bersebelahan dengan Khim seorang warga kamboja. Dia bercerita harus pulang malam itu juga karena kakeknya meninggal. Ternyata sistem kekeluargaannya juga masih mirip disini. My condolence

9. Polan & Tong Hak

tuk tuk phnom penh cambodia

Pagi itu dia sudah stand by pagi itu di di kawasan riverfront Phnom Penh, tempat pemberhentian bus malam dari Siem Reap. Beberapa hari sebelumnya saya email dia via polan11sg@yahoo.com untuk one day trip di Phnom Penh. Namun karena Polan ada keperluan, saya lalu diantar keliling Phnom Penh oleh adiknya yang bernama Tong Hak. Mereka native dan helpful. Recommended kalau mau menggunakan jasa tuk-tuknya selama di PP. Berikut nomor teleponnya +855 979037796 atau +855 12992019

10. Pak Ichwan

kedutaan indonesia di kamboja | indonesian embassy in cambodia

Di Phnom Penh saya iseng nanya ke supir tuk-tuk nya, tau KBRI nggak, eh ternyata dia tau. Jadilah saya iseng mampir ke KBRI Phnom Penh. Seorang satpam warga kamboja sedang berjaga di pos penjagaan. Saya disarankan untuk menemui seorang bapak yang sedang ada sisi gedung yang lain. Setelah berkenalan, ternyata beliau bernama Pak Ichwan, staf konsuler yang handle masalah paspor. Pak Icwan sempat agak kaget, kok siang bolong ada anak ilang dari Magelang yang tiba-tiba datang ke KBRI Phnom Penh hehehe. Beliau sedikit berkisah tentang suka duka bekerja di embassy. Namun sayang kami tidak bisa berbincang terlalu lama karena Pak Ichwan harus segera ke daerah Poipet, perbatasan Kamboja – Thailand untuk mengurus seorang WNI yang meninggal disana. Sebelum berangkat, beliau berpesan untuk selalu menjaga tas dan dokumen² penting karena di Phnom Penh sering terjadi penjambretan di atas tuk-tuk. Selain itu beliau juga merekomendasikan masjid dan warung makan halal di Phnom Penh.

11. Bang Kasmin & Bang Firdaus

Atas rekomendasi dari Pak Ichwan staf KBRI, setelah lihat-lihat istana kerajaan Kamboja, saya mampir ke Warung Bali yang terletak di sebelah kiri Royal Palace. Rata-rata warung makan di Kamboja ada menu babinya, jadi tidak halal. Saya pun tidak berani sembarangan asal makan selama disini. Jadi, wajar dong kalau girang banget ketika berada nun jauh di negeri orang menemukan orang-orang sebangsa dan makanan rumahan. Sepiring nasi puti, tongseng sapi bumbu pedas, sambal dan jus nanas langsung ludes siang itu. Nah, Lebih lanjut mengenai Bang Kasmin, Bang Firdaus dan Warung Bali-nya akan saya ceritakan dalam postingan tersendiri.

12. Room mates di Eighty8 Hostel

eighty8 hostel phnom penh

room mates in eighty8 hostel phnom penh

Mungkin teman-teman sekamar saya kali ini adalah teman-teman terasyik selama saya menginap di hostel. Biasanya kalau di dormitory room, palingan cuma say hi ke bed sebelah. Nah kali ini sekamar kami ber-7 bisa kompakan gitu kumpul di salah satu bed sambil cerita tentang pengalaman selama traveling & objek wisata di negara masing². Ada Christin dari Jerman, Danni, Jackson dan Daryl dari Inggris serta Dean dan Tayo dari Amerika. Sebenarnya yang bikin heboh adalah Om Dean (yang rambut putih baju tarzan). Hari itu dia baru saja dipecat dari pekerjaannya dan heboh cerita kemana-mana dengan kondisi agak kurang full alias rada sober hahaha.

Thats it. Nggak semua orang yang saya temui saya tulis disini, bisa panjang banget postingannya. Lagian rada nggak enak juga kalau liat foto saya kebanyakan hehehe *siap² dijitak berjamaah*. Selain bertemu orang² tersebut, yang masih membekas di ingatan adalah kata²: Tuan-Tuan dan Puan-Puan, Telepon Bimbit, Tali Keledar dan lagunya Carly Rae Japsen yang This Kiss. Why? Karena di semua flight rute tersebut berulang kali kata-kata dan lagu tersebut terulang sampai eneg dengernya. *yaks*

Well, anyway yang namanya solo traveling tidak selalu sepenuhnya sendirian. Tidak selamanya kesepian. Tidak selalu membahayakan.  Kita akan bertemu orang-orang baru yang asyik, seru atau kadang nyebelin, asalkan kita mau untuk membuka diri bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Karena esensi traveling bukan hanya tentang destinasi, namun juga tentang bagaimana kita menikmati setiap moment selama perjalanan. Pada dasarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika kita kembalikan lagi kepada pemahaman: “mau pergi kemanapun kita, toh juga masih di alam semesta nya Allah SWT. Dialah sang Maha Penguasa atas semua ini”.

So, bagaimana pengalaman solo travelingmu? 🙂

Happy Traveling !!

Advertisements

75 thoughts on “My First Solo Traveling

  1. Perjalananmu menyenangkan sekali Fahmiiiii 😀
    Sepakat, yang namanya solo traveling tidak selalu sepenuhnya sendirian.
    Pernah punye pengalaman yang sama ketika bertemu travelmate tengah jalan dan menghabiskan seharian penuh bersama2. Menyenangkan! 😀

  2. akhhh! sampe skrg belum kesampean solo traveling. Jadi makin smangat untuk riset2 dan siapin diri biar kalo dapet waktu atau kesempatan yang oke bisa langsung cusss brangkat sendiri! hehe ditunggu kelanjutan perjalananmu mik! 😀

  3. hi fahmi! gw juga barusan solo traveling ke KL 24 mei kemaren. awalnya memang sempet khawatir perjalanan gw bakal garing karena ga ada tmn ngobrol. tapi gw inget punya tmn org indo yg kerja di KL dari solo traveling ke SG thn lalu, dan setelah gw kontak dia bersedia jd tour guide dadakan. well, jgn pernah ngerasa sendiri meskipun solo traveling. tmn” yg baru kenal sekarang bisa jadi ‘bekal’ buat traveling berikutnya.. cheers 🙂

    • emang kadang suka takut bayangan dulu sebelum berangkat, tapi kalau udah ngerasain sekali, jadi nggak terlalu khawatir kok. sebenernya punya impian juga mau jalan nemuin orang² se timeline di kotanya masing²…

  4. Travelling sendirian bisa juga mendongkrak percaya diri kyk ngomong ke diri sendiri ‘gua ternyata bisa’. This is a very nice posting fahmi dan gua ngk pernh kepikir cari temen jalan sambil bawa kertas gede di bandara hahhaha. Makasih idenya hehehe

  5. A very nice post fahmi..saya juga sering jalan sendiri, buat self healing dan mendongkrak pede hehehe

  6. Paragraf awal berasa kyai ya 😀
    Setuju sih, solo traveling gak melulu bayangannya sendirian. Bakal banyak interaksi dengan pejalan lain, orang lokal, atau kalo beruntung bisa flirting dengan orang lokal juga kok. Jadian pun bisa *INI BUKAN CURCOL*

  7. Ternyata kemarin itu ngetrip sendiri ya kakak…tahu gitu aku temani *pasang muka malaikat baik hati…. 🙂
    Eh itu foto sama pengantin bikin ngakak, aku suka juga ngrecoki orang lagi prewed buat diajak foto bareng..hahahaha

  8. hahaha kak Fahmi, darisemua list orang-orang di atas, pastinya aku paling ngeh sama si Vanny :))

    Dia ramah banget gitu yah? kak ariev bisa-bisaan aja nemu orang baik diluaran sana. jadi selama di angkor wat, highlightnya kemana-mana aja, saya liat petanya aja udah bengong :))

    • Vanny ramah bgt, cm krn dia lg kuliah bahasa inggris juga, jd kl mau minta dianter dia mending janjian via email. Higlight trip kamboja kemarin ke siem reap dan phnom penh doang krn waktu yg terbatas. Next deh ditulis ttg per object nya (kalau nggak males hehe)

  9. Waduh, Fahmi! Hahaha! Bikin saya malu aja dengan deskripsi “master blogger” sedangkan saya juga masih ada banyak kekurangan dan yg perlu dipelajari :-p

    Tapi apapun, benar apa yg kamu tulis, travel solo tak semestinya alone dan lonely. You usually get to make more friends on the road that way. And some of them can turn out to be good friends.

    It was great meeting you that day, I really enjoyed it. Hope to meet you again soon and maybe travel together someday! 🙂

    • Hahaha tenang bang, u deserve it. Blogmu keren & inspiring. Mari terus belajar agar lebih baik.

      Amiiin, semoga bisa segera ketemu lagi. Or even traveling bareng!! I’ll let you know kalau main ke malaysia lagi 🙂

  10. baru maen kesini lagi, langsung disuguhi postingan menyenangkan ..
    kalo boleh dibilang, traveler sejati ya gitu, berangkat sendiri, pulangnya bawa temen baru segambreng .. 🙂

  11. info yg menarik mas fahmi. Solo traveling emang keren kok, nggak perlu takut sama penjahat2, yang ada malah penjahatnya yg takut mau nyulik si solo traveler hehe

  12. hi Fahmi. i’m Syakirah from Malaysia. i read your entry about solo travelling. it seems great and nice. =) actually, i wish to travel alone too. so i keep searching tips and do some research on internet then i found your blog. i want to ask your opinion, it is solo travelling dangerous for woman like me ? is it fun to travel alone? if u dont mind, u can advice and share some tips. =)

    • hi Syakirah, thanks for visiting my blog 🙂
      yup, so much fun during solo traveling
      is it dangerous for woman? mmm… depends on:
      1. your skill
      2. knowledge
      3. destination
      4. etc
      maybe we can discuss via email, later 🙂

  13. Pingback: Restoran Halal di Phnom Penh

  14. Pingback: Perjuangan Menuju Kamboja

  15. Boleh juga triknya, ntar dicontek ah. Baru sekali travelling sendirian dan bikin nagih. Cuma mikir ongkos jalannya kayak sewa tuk tuk dan share lainnya. Bolelah dicoba nanti, praktekan. Semoga dapat kenalan teman jalan yang enak dan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s