Guestpost: Stop Sirkus Lumba-lumba


Postingan kali ini, Destination Anywhere kedatangan tamu. Dia adalah Mas Wandry, dari Traveloka.com sebuah web yang menyediakan jasa pencarian dan pemesanan tiket pesawat murah di Indonesia secara online. Melalui tulisannya, Mas Wandry berharap dapat berbagi dan terus menambah pengetahuan dengan teman² di dunia maya. Dan berikut ungkapan hatinya tentang sirkus lumba-lumba keliling, edited by Fahmi. Check this out:

================================

Sirkus Lumba-Lumba Dalam Perspektif Saya

Memori saya melayang kembali ke masa lalu, ketika masik duduk di bangku Taman Kanak-kanak, moment pertama kali melihat lumba-lumba secara langsung melalui atraksi sirkus di Ancol. Sebagai anak kecil yang belum tahu apa-apa saya sangat kagum dengan perilaku & intelegnsia lumba-lumba yang pandai berhitung, lompat di lingkaran api, melempar bola, dll. Ya, itu cerita lama saya yang belum tahu apa-apa, dan ternyata dibalik itu banyak fakta-fakta yang membuat kita miris.

Seiring berjalannya waktu, saya baru menyadari bahwa atraksi sirkus lumba-lumba, terutama sirkus lumba-lumba keliling yang berpindah dari satu kota ke kota lain ini kenyataannya sudah masuk ke dalam kategori eksploitasi hewan. Beberapa waktu lalu kita ingat, bahwa aksi protes terhadap ajang sirkus hewan cukup marak di lingkup internasional. Hal ini tentu berkembang seiring dengan kesadaran kita kalau ternyata sirkus lumba-lumba ini hanya menguntungkan beberapa pihak manusia, dan sangat merugikan lumba-lumba. Kalo dipikir-pikir, unsur edukasinya sih sebenarnya hampir tidak ada. Highlight nya hanya sisi huburan, terutama bagi anak-anak kecil yang masih polos dan belum tahu apa-apa itu. Risih rasanya melihat embel-embel tulisan “Penyuluhan, Konservasi & Parade Pendidikan” *sigh*

Sirkus Lumba Lumba Keliling

Sirkus Lumba Lumba Keliling

Nah, lalu apa sih efek buruknya bagi lumba-lumba tersebut? Mari kita coba berempati terhadap mamalia-mamalia ini. Dan berikut adalah fakta yang saya baca dari beberapa sumber mengenai eksploitasi lumba-lumba di ajang sirkus:

Perlakuan

Dalam atraksi sirkus ini ternyata banyak ditemukan perlakuan menyimpang yang diterapkan pada lumba-lumba. Mulai dari penangkapan, hingga proses pelatihannya. Mamalia ini kemungkinan besar akan mengikuti perintah pelatih dengan dibawah ancaman atau rasa takut. Biasanya mereka dibiarkan lapar, lalu diiming-imingi sepotong ikan agar mau menuruti perintah pawangnya.

Tempat Tinggal

Layaknya penjara, tempat tinggal/habitat lumba-lumba lebih terbatas ruangnya. Bahkan biasanya sirkus keliling memberikan tempat tinggal yang tidak layak, seperti penggunaan air tawar yang dicampur dengan klorin dan garam. Kita juga perlu tahu, bahwa penggunaan klorin ini dapat mengakibatkan rabun mata bagi si lumba-lumba, bahkan bisa membuat kebutaan. Selain itu, suhu atau tingkat kelembaban juga umumnya kurang diperhatikan oleh penyelenggara sirkus. Mungkin entah karena ketidaktahuan atau ketidakpedulian mereka yang justru dapat melukai kulit lumba-lumba yang sensitif.

Sehubungan dengan itu, proses transportasi yang digunakan juga umumnya tidak layak. Karena lumba-lumba berada di tempat yang sempit, hanya dilumuri mentega/lotion pelembab, belum lagi dengan suhu udara yang tidak menentu, dan penggunaan airnya yang tidak sesuai dengan seharusnya. Kita tahu, bahwa air laut akan membuat korosi pada besi dan sejenisnya, oleh karena itu pihak sirkus keliling umumnya mengakali dengan campuran air tawar, klorin dan garam.

Lebih jelas, berikut foto² proses pemindahan lumba-lumba oleh sirkus keliling yang dimuat oleh inikabarku.com

Makanan

Cukup miris sih fakta mengenai makanan ini. Karena berdasarkan investigasi dari JAAN (Jakarta Animal Aid Network), lumba-lumba diharuskan berdiet ketat sebelum acara pertunjukan berlangsung. Hal ini tentunya agar mereka mau menuruti perintah pada saat pertunjukan dengan imbalan makanan. Jadi sudah jelas kenapa lumba-lumba ini menuruti perintah, karena memang mereka dibawah tekanan dan tidak memiliki kemampuan untuk menentang.

Apakah sudah cukup penderitaannya si lumba-lumba? Ohh, ternyata masih berlanjut nih. Lumba-lumba ini memiliki sistem sonar, yang digunakan untuk komunikasi dan memerima rangsangan dari lingkungan sekitar. Ternyata sistem sonar ini sangat peka dan sensitif, sistem sonar inilah yang digunakan mamalia ini untuk merasakan getaran suara di sekitar sebagai petunjuk arah mereka di dalam air. Bayangkan jika sistem ini rusak, layaknya orang buta tentu mereka akan terganggu penglihatannya. Jadi sistem sonar ini lebih utama bagi lumba-lumba dalam membantu arah dan penglihatan mereka. Nah, dalam hal ini peran manusia cukup besar dalam menambah penderitaan si lumba-lumba.

Pada suatu acara sirkus, animo dan “crowd” penonton pasti sangat meriah. Suara ini ternyata dapat mengganggu dan tanpa kita sadari menyakiti mamalia tersebut. Oleh karena itu, mulai banyak aksi protes dibelahan dunia terhadap eksploitasi si lumba-lumba. Dan, satu-satunya Negara yang masih memperbolehkan aksi ini ternyata Indonesia. Cukup miris juga pas saya tahu, tetapi karena desakan dari berbagai pihak, termasuk petisi yang dibuat dan di tandatangani oleh puluhan ribu orang, akhirnya pemerintah bertindak juga dengan membuat larangan atraksi lumba-lumba pada sirkus keliling sejak awal tahun 2013. Dibawah ini adalah video yang menggambarkan perbedaan lumba-lumba yang ditangkap dengan yang masih hidup di alam bebas:

Dari video itu kita bisa lihat, bahwa ternyata manusia tega juga ya. Dan ada perbedaan di mimik dan gerakan si lumba-lumba. Yang satu melakukan atraksi karena terpaksa, dan yang di laut seperti bebas mengekspresikan diri.

Nah, sekarang waktunya kita yang ikut mengawasi jalannya larangan dan peraturan ini. Hal ini untuk menghindari punahnya mamalia cerdas ini dari muka bumi. Kita harus awasi dan pastikan bahwa tidak ada lagi eksploitasi hewan, yang hanya akan memuaskan dan menguntungkan beberapa pihak. Jadi kita bisa melaporkan, jika sewaktu-waktu menemukan atraksi seperti ini kepada kementrian kehutanan, sehingga bisa ditindak lebih lanjut. Terlebih sudah pernah terucap dari mulut menteri kehutanan kita, Pak Zulkifli Hasan pada 5 Januari 2013 dalam diskusi Dolphin Protection di @america Pacific Place bersama Dubes AS, Ric O’ Barry & para aktivis penyelamatan satwa, bahwa beliau akan bertanggung jawab apabila masih ada sirkus lumba-lumba keliling. Kita tunggu saja realisasi janjinya!

Overall, kita sebagai manusia harus menghargai dan hidup berdampingan dengan alam sekitar. Kita sadari memang belakangan ini umat manusia sering melakukan pengrusakan terhadap alam sekitar, termasuk habitatnya. Yuk, kita coba kurangi dari sekarang, termasuk membantu pengawasan dan pelestarian si lumba-lumba. Terima kasih

Note:

Sebagai tambahan, saya, Fahmi, sempat membuat sebuah storify dari twit aktivis pecinta satwa @AmankJancok tentang: Cerita Dibalik Sirkus Lumba-lumba

Ada yang belum pernah nonton film dokumenter The Cove karya Richard O’ Barry, tentang pembantaian lumba-lumba di Taiji, Wakayama Prefecture, Jepang? Kalau belum, coba deh nonton. Semoga semakin tergerak hatinya untuk ikut berpartisipasi aktif menyelamatkan lingkungan, apapun kegiatannya.

Ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian kita akan kelestarian lingkungan. Ada banyak peran yang dapat dimainkan. Semua pihak dapat bersinergi demi lingkungan hidup yang lestari. Termasuk melalui postingan ini, kami berharap dapat membangun social awareness pembaca, agar mengerti bahwa gerakan #StopSirkusLumba, #SaveDolphins, #SaveSharks bukan hanya sekedar hastag. Nah, daripada nyinyirin aktivis save-save-an, just let’s DO SOMETHING!! Mari kita sama-sama berkaca, apa yang sudah kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan?

23 thoughts on “Guestpost: Stop Sirkus Lumba-lumba

    • banyak hal miris dibalik show sirkus lumba2 keliling yang masyarakat awam belum tahu & belum menyadarinya. dipikirnya show lumba2 itu lucu, cerdas, dll, padahal…. jadi, mari bantu untuk meng-edukasi agar kita semua lebih aware

  1. *lho komenku semalam gak ada*

    Jadi inget The Cove dan adegan-adegan mengerikan di film itu. Dimana air yang bening tiba-tiba jadi ‘berwarna’. 😦

    • cuma ada comment ini Mas

      geregetan, jengkel, sedih, nyesek & esmosi setiap nonton The Cove. ayo ajak masyarakat untuk menyadari betapa banyak hal² menyedihkan dibalik tawa riang penonton sirkus lumba²

  2. dlu pas sd nonton inih….di lapangan deket akmil……senneggg benggedddd… tp tyt… kecian si lumba2nya yak….!!! kalo gak salah dlu pas mo beberes mo pindah ke kota lain ada 1 lumba2 yang mati….inged gak mas an

    • kalau di Magelang paling sering show di Lap Abu Bakrin, tapi sejak jadi lap golf, mereka show di Lap samping RST Wates & Lap SMP 8 Tidar.

      sedih kl liat guru2 TK & SD berbondong2 menggiring murid2nya nonton show lumba2. mereka yang seharusnya menjadi pendidik malah membawa anak2 itu melihat sesuatu yg sebenernya merusak alam, tentu karena ketidaktahuan guru2 & orang tua, atas apa yg terjadi dibalik sebuah sirkus lumba2.

      melalui artikel2 & postingan inilah, kita coba mengedukasi, membuka wawasan mereka, agar menyadari betapa sebenarnya sirkus lumba2 itu tidak mendidik sama sekali.

      #MalahKhotbah

    • Untuk lumba-lumba yang diancol ini sepertinya dapat izin dari pemerintah Mas, kalo ga salah ada 3 pengelola yang diizinkan pemerintah. Mungkin untuk perawatannya lebih diperhatikan, dan katanya selalu di awasi oleh pemerintah. Jika sewaktu-waktu melanggar, maka izinnya akan dicabut.

      Tapi memang, kalo saya yang berada diposisi lumba-lumbanya sendiri tentu ga mau karena ga bisa bebas hehe. Mudah-mudahan ada jalan yang lebih baik kedepannya.

    • semoga postingan ini semakin menyadarkan banyak orang, we have to stop it!!

      kalau yg di Ancol, aku kurang tahu. meski mungkin treatment mereka better daripada yg di sirkus keliling. tapi intinya adalah: kalau mau lihat lumba2 ya di alam nya, di laut, bukan di kolam sempit & dipaksa melakukan atraksi ini itu

    • Beberapa bulan lalu emang lagi muter2 di daerah Jateng. yg paling nyesek itu ketika tahu selama april show di Magelang, lanjut mei mereka show ke Wonosobo, dst

      Nyet!! itu lumba-lumba mamalia laut gimana ceritanya bisa dipaksakan show di Wonosobo, pegunungan, dingin… gila emang mereka!! #edisiesmosi

    • bantu sharing informasi tentang apa yang terjadi dibalik show sirkus lumba-lumba keliling ini yuk, karena banyak masyarakat awam belum menyadarinya. kita gugah rasa empati mereka, itu salah satu metode yg ampuh untuk menghentikan show ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s