Candi Ngawen Muntilan, Pagi Itu…


Candi Ngawen Muntilan Magelang

Pagi Yang Damai di Candi Ngawen

Udara pagi itu terasa cukup dingin. Ingin rasanya kembali meringkuk dibawah selimut setelah sholat subuh. Tapi ternyata pikiran dan kaki tidak sinkron. Melihat semburat jingga di ufuk timur, menghirup sejuknya udara pagi, sayang rasanya untuk melewatkan moment itu hanya dengan kembali tidur karena mentang-mentang hari libur. Saya putuskan untuk jogging. Apalagi kalau ingat teman-teman yang tinggal di kota besar seperti Jakarta misalnya. Mereka tidak bisa menikmati moment seperti ini. Udara pagi yang fresh bebas polusi & berjalan diantara pematang sawah yang menghijau dibawah pelukan hangatnya mentari pagi dengan view gunung-gunung menjulang. Priceless…

Kebetulan weekend itu saya sedang melarikan diri, menyepi ke rumah Budhe di Muntilan. Ceritanya sedang kangen dengan para sepupu. (padahal karena kondisi dompet sedang tidak mendukung untuk kelayapan jauh-jauh hahaha) #alibi. Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit melewati sawah dan perkampungan, sampailah saya di Candi Ngawen. Rumah budhe di Muntilan memang tak jauh dari candi Ngawen. Hanya berbeda kampung saja. Saya tertegun sejenak… aura kompleks ini di pagi hari ternyata jauh berbeda dengan siang atau sore hari. Pancaran matahari pagi yang hangat menyapa bebatuan andesit berembun yang dingin nan kokoh, meski telah rapuh…

Candi ngawen terletak di desa Ngawen kelurahan Gunungpring kecamatan Muntilan kabupaten Magelang. Lokasinya sebenarnya tak jauh dari pasar muntilan. Hanya saja karena memang tidak berada di jalur utama, berada di sekitar pemukiman penduduk dan sawah. Tepat di pinggir jalan kecil beraspal mulus yang menghubungkan kelurahan Gunungpring dan Sukorini, jadi tidak banyak orang yang menyadari keberadaan candi ini kecuali warga sekitar Muntilan. Kompleks candi budha ini merupakan peninggalan dinasti Syailendra pada masa imperium Mataram Kuno abad ke 8. Jangan bayangkan Candi Ngawen ini seperti kompleks Candi Borobudur atau Prambanan. Tak begitu luas memang, hanya lima buah candi kecil dengan formasi berderet, dua candi utama dan tiga candi apit/pendamping. Strukturnya pun sudah tak utuh lagi. Bahkan empat diantaranya lebih mirip reruntuhan candi. Tinggal pondasi utamanya. Menurut catatan yang ada di pos penjagaan candi, kerusakan disebabkan oleh beberapa faktor. Karena bencana alam berupa gempa bumi dan letusan gunung Merapi ataupun karena ulah manusia.

Pagi itu gerbang masih ditutup. Petugas penjaga belum datang karena kata warga sekitar, gerbang baru dibuka mulai jam 08.00. Namun saya heran, kok di dalam ada sekelompok anak-anak kecil asyik berlarian kesana kemari bermain dolanan bocah. Karena penasaran, saya susuri pagar besi yang mengelilingi kompleks candi, ternyata mereka masuk melalui “jalan tikus”. Celah sempit diantara pagar dan permukaan tanah. Mereka dengan santainya merangkak melalui jalur itu. Owalah, ada-ada saja, namanya juga anak-anak. Sementara saya hanya bisa tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah polah anak-anak itu, bermain aneka dolanan bocah seperti Jamuran, Ingkling, Sepur-sepuran hingga Jilumpet. Jadi ingat masa kecil dulu…

Candi Ngawen Muntilan Magelang

Happy Kids !! Literally

Setelah menunggu beberapa saat sambil ngobrol dengan warga sekitar, akhirnya bapak petugas datang juga dan gerbang pun dibuka. Memasuki halaman candi, terhampar batu andesit puing-puing reruntuhan Candi Ngawen. Miris lihatnya. Andaikan candi ini masih utuh, pasti akan lebih indah. Pikiran saya kemudian terbang melesat ke ratusan tahun lalu dimana candi ini masih utuh dan digunakan sebagai tempat peribadatan. Membayangkan orang-orang jaman dulu bermeditasi disini. Membayangkan bagaimana kehidupan sosialnya. Ahh andaikan saja ada mesin waktu…

Di sisi utara kompleks candi terdapat sebuah kolam ikan kecil berhiaskan teratai. Rumput hijau menyelimuti halaman candi dan tanaman bunga sepatu memberi kesan asri. Sebuah selokan kecil mengalir tepat di depan candi, semoga tidak terlalu menggerus pondasi. Ciri khas Candi Ngawen adalah di setiap sudutnya dihiasi oleh patung singa penjaga candi. Kalau hujan, air akan mengalir dari keempat sudutnya seperti air mancur. Cantik! Relief ukiran tentang Kinara-Kinari, Kalamakara (Dewa Waktu), dan entah apa lagi namanya, masih terlihat cukup jelas di bagian bawah.

Dari kelima candi, hanya tinggal satu candi yang masih relatif utuh. Yaitu candi urutan nomor empat. Pemerintah melakukan “penyelamatan” struktur candi dengan melekatkan batu-batu yang renggang dengan semen. Sehingga terlihat tambalan disana-sini. Tapi ya mau gimana lagi, dilematis. Di dalamnya, terdapat sebuah patung budha sedang memberi berkat. Namun sayang, patung budha ini juga sudah tidak utuh bentuknya. Kepalanya terpenggal, jadi hanya badannya saja.

Jogging pagi itu sangat menyenangkan. Tidak hanya sehat, tetapi saya mendapat banyak pelajaran dan pengetahuan dari tumpukan-tumpukan batu yang membisu dimakan waktu. Ternyata untuk refreshing, tidak melulu dengan traveling ke tempat yang jauh. Mulailah dengan eksplorasi daerahmu sendiri. Selain lebih irit, yang pasti bisa lebih mengenalkan kita kepada lingkungan sekitar. Kalau anda berkunjung ke Magelang tidak ada salahnya menyempatkan diri mampir ke Candi Ngawen. Biar gampang, patokannya adalah pasar muntilan. Dari pasar, ambil jalan lurus ke arah klangon/kali bawang, atau dikenal juga dengan Jl Lettu Sugiarno. Sampai di pertigaan besar pertama, belok kiri arah ke kompleks makam Gunung Pring. Sekitar 500 meter ada perempatan, belok ke kanan arah Ngawen. Sekitar 1,5 Km dari Gunung Pring sampai deh ke Candi Ngawen. Gampang kan? kalau bingung, just ask the locals, merekalah penunjuk jalan terbaik, dimanapun kita sedang berada. Pesan saya, jangan berharap terlalu banyak karena kondisi saat ini seperti yang saya ceritakan diatas. Tapi seperti apapun kondisinya, yang namanya situs warisan budaya harus tetap dijaga. Let’s save our heritage!!

Dan tak terasa hari sudah beranjak siang, sinar matahari sudah mulai terasa panas di kulit. Rupanya hampir 1,5 jam saya ngubek-ubek candi kecil ini. Perut sudah mulai keroncongan tanda minta dikasih sarapan. Kerongkongan juga haus. Dan saya baru menyadari… bahwa… jalan kaki pulang ke rumah Budhe itu lumayan PR BANGET… | *nyari odong-odong*

:: Visit Jawa Tengah 2013 ::

Advertisements

36 thoughts on “Candi Ngawen Muntilan, Pagi Itu…

    • candi-candi di Magelang, Sleman, Kalasan, dll memang mirip karena dalam satu linimasa. bagian dari sejarah kerajaan mataram kuno. kapan2 pengen jelajah semua candi kecil2 itu 🙂

  1. Setuju….Kenali kampung mu, kenali daerah mu sendiri terlebih dahulu karena tempat itu justru lebih indah dibanding tempat wisata di daerah lain yang baru pertama kali dilihat #soknguliahi 🙂

  2. saya sering lewat pasar muntilan tapi gak pernah lihat petunjuk candi ini, bener kata mas.nya kalo ini tidak terletak di jalur utama
    bisa jadi destinasi selanjutnya nih
    tempatnya juga bersih dan juga sedikit pengunjung, jadi makin bisa menikmati hal hal yang ada di candi ini

    • nah, monggo kapan2 coba dicari candi ngawen ini mas, gampang kok arahnya. at least bisa jadi salah satu alternatif belajar sejarah secara langsung di situsnya & gratis pula

    • kampung dg rumah2 joglo, halaman luas nan teduh dengan pohon mangga/rambutan, sawah nan hijau masih terhampar, candi kecil di ujung desa, masyarakat nya yang ramah & murah senyum, masakan rumahan yg sederhana namun menggoda selera…. ahh… indahnya hidup di kampung :’)

  3. Papan petunjuk arah ke candinya yang ada di Jl. Magelang selepas memasuki kota Muntilan memang tidak begitu mencolok, mirip dengan papan petunjuk ke Candi Losari. Walaupun letaknya tersembunyi, suasana sekitar candi memang asri, khas pedesaan. Eh? Dulu waktu saya ke sana saya mencermati air sungai yang mengalir seperti mengandung belerang?

    • nah ini ada info tambahan tuips, monggo disimak, smg bermanfaat. thanks mas 🙂

      air di selokan depan candi maksudnya? itu ada lumut kuning2 gt kayanya bukan karena belerang mas, tapi kl gak salah krn emang jenis lumutnya. kalau ada belerang pasti sudah berbau…

  4. wah nemu blog ttg candi ngawen, cedak tenan karo tmpt mbah n rumh budhe jg,, sering banget ksni pagi2 n sore2 doang, kalo siang puanase,,
    mas fahmi muntilannya dmn??nek aku di keji n gunungpring, jdi kalo ksni sambil jogging or naik sepeda aja,, dari SD smpe udah krja nek nongkrong sore pas mudik y k ngawen,,, :D,,, wlaupun besar d jkt,,tpi lbih suka n cinta banget sm kmpung halaman ku muntilan love place, love people, love everything ❤

  5. wahh wonoboyo??arep2an karo ngaglik to,,wahhh “bisa jadi-bisa jadi” 😀
    nambah2 sedulur,,spertinya aku jg ada budhe di wonoboyo,, (lali jenenge,,heu)
    nek aku k muntilan lagi,,ayo mas jo mlaku2 hunting tmpat yg blm prnah bnyk org tau.. 😀

      • hahaha…iyaaaaa dulu kecil seringgg banget tiap jumat apa sih??kliwon po legi to??tuku dolanan sm beli mkanan yg aneh2…tpi apa masih seramai dlu??secara mall2 udah ngalahin semuanya,, trus pas kmren lebaran kurban di muntilan k pasar wes sepi andong2’e.. -_____-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s