Save Sharks Mission – Bali Part 2


Sabtu, 21 September 2013

Punduk Dawa Pesinggahan Klungkung

menanti sunrise dari balik bukit pesinggahan

Langit masih gelap pagi itu. Saya tiba-tiba terbangun karena suara berisik ratusan ayam yang berkokok berjamaah. Kicauan burung-burung liar juga terdengar merdu menyambut mentari. Kebetulan kami berlima, team Save Sharks Indonesia menginap di Puri Pondok Dawa Villa yang lokasinya berada diatas bukit di daerah kecamatan Pesinggahan, Kab Klungkung. Keluar kamar, tarik nafas dalam-dalam, hawa nan sejuk bebas polusi ditengah suasana asri khas pedesaan Bali, heaven!

Nah, singkat cerita, usai sarapan, dengan semangat 45 kami berlima langsung memulai agenda hari kedua public consultation project di Bali menuju ke pantai-pantai sbb:

Pantai Kusamba (lagi) & Pantai Pesinggahan

Pantai ini masih masuk wilayah Kab Klungkung, lokasinya tak jauh dari villa tempat kami menginap. Pasir hitamnya tergerus oleh ombak laut selatan yang sedang tidak bersahabat.  Sebuah papan informasi besar berisi gambar beberapa species laut yang dilarang untuk ditangkap berdiri kokoh tak jauh dari bibir pantai. Mata kami langsung berbinar melihatnya. Sebuah progress yang bagus, pikir saya. Mengingat, tempat ini dulunya menjadi salah satu spot utama pemasok hiu di kawasan provinsi Bali. Beberapa species dilindungi yang terpampang dalam informasi tersebut antara lain, Thresher Shark (Family Alopidae) , Lumba-lumba (Family Dolphinidae & Family Ziphiidae) serta aneka jenis spesies penyu seperti penyu belimbing, hijau, pipih, ridel, sisik & penyu tempayan.

Satwa Dilindungi Pantai Kusamba Bali #savesharks

Papan Info Satwa Dilindungi Pantai Kusamba

Tujuan kami pagi itu kembali ke pantai Kusamba dan Pesinggahan adalah untuk observasi lagi, siapa tahu ada nelayan yang baru pulang dari pergi melaut semalam. Namun ternyata kami masih harus menelan kekecewaan karena tidak ada nelayan yang pergi melaut saat bulan purnama. Meski begitu, kami tak mau pulang dengan tangan kosong. Dari hasil inisiatif ngobrol-ngobrol santai dengan beberapa nelayan di Kusamba, ternyata saat ini hasil tangkapan hiu sudah jauh menurun apabila dibandingkan periode-periode sebelumnya yang pernah mencapai… 10 ton! *kamprett!!*

Saat ini komoditas tangkapan utama para nelayan pantai Kusamba dan Pesinggahan adalah ikan Cakalang dan Tuna. Mengapa? Karena disini terdapat industri kecil pengolahan “Ikan Pindang Kusamba” yang sudah terkenal seantero Bali.

Pantai Lebih

Team Save Sharks Indonesia lalu bergerak ke barat, menuju pantai Lebih yang sudah masuk ke wilayah Kab Gianyar. Pantai ini bukan sepenuhnya kampung nelayan, namun bukan juga spot favorit wisatawan. Lebih pas kalau dijadikan sebagai rest area, karena berada di tengah-tengah jalan bypass Ida Bagus Mantra yang menghubungkan Denpasar & Karangasem. Pasirnya hitam legam tergerus abrasi.

Aroma wangi seafood yang dibakar menyebar di area parkir. Maklum, disini terdapat beberapa warung makan yang menjual aneka menu seafood. Kerapu bakar, pepes tengiri, dan sate lilit yang yang disajikan dengan bumbu khas Bali, hmmm begitu menggoda iman.*elus2 perut* | *malah bahas makanan*

Seorang ibu penjual ikan segar bercerita kepada kami, “Disini kalau pas musim, ada juga yang jual daging ikan hiu & marlin, dimasak sate. Tapi sekarang lagi nggak musim”. *glek*

Pantai Lebih Gianyar Bali #savesharks

Pantai Lebih – Gianyar

Pantai Mertasari

Sengatan matahari Bali begitu terasa disini. Mas Wahyu driver kami berinisiatif mengajak kami ke Pantai Mertasari. Siapa tahu ada nelayan yang dapat hiu, ujarnya sambil menyemangati kami. Namun setelah sampai, ternyata pantai Mertasari masih satu garis dengan pantai Sanur & Sindhu. Jadi lebih difungsikan sebagai tempat wisata, daripada desa nelayan. Para PKL di kawasan ini menyarankan kami untuk ke pantai Semawang yang berada tak jauh dari situ. Kata mereka, biasanya sekitar jam 13.00-14.00 ada jukung nelayan yang sandar baru pulang melaut.

Pantai Semawang

Pantai Semawang Bali #savesharks

Pantai Semawang – Sanur

Spanduk “Sanur Village Festival” menyambut kami. Di bibir pantai, bule-bule nongkrong menikmati hidup mereka di cafe-cafe lucu sepanjang pantai. Sementara di sisi barat, terparkir puluhan jukung nelayan yang terombang-ambing dihempas ombak. Saya dan Karin menghampiri seorang bapak yang terlihat baru saja turun dari jukungnya, sementara Adhis, Wening & Vicho menggali informasi dari warga sekitar yang sedang duduk di balai-balai.

Bapak yang baru saja turun dari jukung tadi ternyata tidak pergi melaut, melainkan pulang dari mancing bersama sepasang bule. Beliau menyarankan kami untuk menunggu di bibir pantai, katanya nggak lama lagi biasanya ada nelayan pulang. Semilir angin sepoi-sepoi membuai mata kami yang tinggal 5 watt itu sesekali terpejam. Detik demi detik, menit demi menit… hampir 1 jam kami menunggu. Lalu… kemudian sebuah jukung berlayar biru menepi tepat di depan kami. Hilang lah rasa kantuk ini. Kami spontan berlari menghapiri sang nelayan yang masih terlihat lelah itu.

“Pak dapat ikan apa saja? Banyak nggak?” tanya kami peuh semangat

“Bapak ndak dapat apa-apa, hanya 1 kakap merah ini. Masih musim purnama dek” jawabnya lesu “lagi ndak banyak yang melaut sekarang” lanjutnya dengan logat khas bali yang kental

“Kalau di pantai Semawang sini, suka ada yang dapat ikan besar nggak pak? Kaya hiu atau pari manta?”

“Hiu kadang-kadang ada, tapi udah jarang. Sekarang nelayan disini lebih sering disewa buat mancing sama turis2 bule”

Mendengar jawaban tersebut, kami lalu memutuskan untuk mohon diri dan cabut dari pantai Semawang untuk ngesot ke target spot yang lain.

Pantai Serangan

Jalanan menuju kawasan pantai Serangan sudah bagus, sepertinya belum lama di-aspal. Setiap kendaraan yang masuk kawasan pantai Serangan wajib membayar retribusi sebesar Rp. 5.000,-. Kami pun baru tahu kalau ternyata disini menjadi kawasan konservasi penyu. Dari hasil observasi kawasan sekitar pantai serta melakukan diskusi santai dengan para nelayan disini, ternyata polanya berbeda lagi dengan daerah-daerah nelayan yang sebelumnya kami datangi. Nelayan pantai Serangan tidak menangkap ikan secara masif, melainkan hanya dengan alat pancing. Sebagian besar dari mereka juga sadar akan pentingnya konservasi penyu, lumba-lumba, hiu dan manta. Jadi lebih baik menggantungkan hidup dari laut untuk sektor pariwisata. Di pantai Serangan ini juga ada yang menjual paket wisata melihat lumba-lumba di laut lepas dari atas jukung. Ada juga “Bali Shark” sebuah ponton buatan di tengah laut untuk konservasi hiu. Sistemnya, hiu yang tertangkap nelayan dibeli oleh pengelola, dimasukan kolam perawatan sampai saatnya si hiu akan di release kembali ke laut. Namun untuk berkunjung kesini ternyata tidak murah, kita harus membayar tiket sebesar 99 $. Hmmm… misinya bagus sih, tapi kok… terkesan komersialisasi hiu jadinya. #cmiiw

Kejutan Besar di Akhir Misi

Hari sudah menjelang ashar saat kami (akhirnya) makan siang di Akame Restaurant yang terletak tak jauh dari jalan tol baru yang membelah laut yang menghubungkan Denpasar-Nusa Dua-Benoa itu. Agak kalap juga pas calamary sambal matah terhidang di meja makan. Nggak butuh waktu lama bagi kami berlima menghabiskan aneka menu seafood itu. Dalam kondisi baru aja kelar makan & tangan masih belepotan belum sempat cuci tangan, tiba-tiba Wening nyeletuk:

“eh, itu di gazebo sebelah bukannya Menteri Kelautan ya?”

Kami pun spontan menoleh ke gazebo sebelah

“ah masa? Kok disini?”

*masih belum pada terlalu ngeh karena kekenyangan*

*tiba-tiba semua pramusaji sibuk mondar mandir bawa aneka menu*

“woy!! beneran deh!! itu Menteri KKP, coba googling gih sama nggak wajahnya”

Si Vicko langsung utak atik gadgetnya dan… “eh iya beneraaann, wajahnya mirip”

“Subhanallah!! Kok pas bener momentnya, interview yuk!!” ajak saya

Dan dengan semangat 45, kami beres-beres meja lalu bersiap nyamperin si bapak.

Setelah menyampaikan maksud kami ke mas ajudan, beliau dengan senang hati membantu menyampaikannya. Nggak lama, mas ajudan memberi kode “Oke, siap²”. Kami pun bersiap di sebuah meja bundar.

Agak kaget ketika yang menghampiri kami bukanlah dari pihak Kementerian Kelautan & Perikanan, melainkan Pak Ketut Sudikerta, Wakil Gubernur Bali yang baru saja terpilih. Setelah menyampaikan maksud kami, surprisingly beliau spontan memanggil dua orang pejabat yaitu, kepala dinas kelautan & perikanan provinsi Bali dan kabupaten Badung. Ya Tuhaaan… kebetulan macam apa lagi ini? Kok pas banget bisa ketemu mereka, hahaha

Diskusi singkat yang menghasilkan kesepakatan saling support program masing² pihak, baik dari team Save Sharks Indonesia maupun Dinas KKP Bali. Beliau-beliau juga menyampaikan akan melibatkan kami untuk mendukung program konservasi hiu di provinsi Bali. Tak lupa bertukar contact agar memudahkan koordinasi nantinya.

“nah sudah ketemu saya dan jajaran KKP Bali kan? Sekarang ayo kalau mau ketemu bapak menteri, saya antar” kata pak Wagub

Team Save Sharks Indonesia with Menteri Kelautan & Perikanan Sharif Cicip Sutarjo

Team Save Sharks Indonesia & Menteri KKP

Kami pun pindah ke gazebo sebelah untuk bertemu dengan Pak Sharif Cicip Sutarjo, Menteri Kelautan & Perikanan. Ekspresi kaget sempat terlihat ketika bertemu kami. Mungkin pikirnya: siapakah anak-anak gembel ini? Hahaha ya maklum, pakaian kami kala itu hanya pakai t-shirt, celana kolor. Bahkan Vicho malah pake celana jeans pendek super belel hahaha. Tapi ya gimana lagi, namanya juga sebuah pertemuan yang kebetulan, otomatis tanpa persiapan. Untungnya beliau cukup welcome untuk diskusi sebentar, meski masih jetlag karena baru saja landing dari Jakarta. Saya yakin, pertemuan yang sangat kebetulan itu bukan sekedar kebetulan. Namun Tuhan lah yang mempertemukan kami. Semesta mendukung…

Malam harinya, team Save Sharks Indonesia hadir di acara launching Antida Sound Garden Studio di Jl Waribang Denpasar. Seniman² Denpasar berkumpul disana, antara lain Ganjil Band yang digawangi I Gede Robi Supriyanto alias Robi Navicula,  Theater Bajra Sandhi dan seniman sekaligus pemerhati sastra, Cok Sawitri yang musikalisasi pusinya bikin merinding.

Usai dari kawasan Waribang, kami lantas menuju Sanur untuk met up dengan Abam dari Conservation International dan Sarah dari Manta Trust. Pertemuan ini sekaligus sebagai ajang koordinasi lanjutan atas hasil temuan kami selama di Bali. Nah, saking asyiknya sharing ini itu tentang dunia konservasi hiu & manta, tanpa terasa sudah lewat jam 12 malam. Akhirnya kami pun bubar & kembali ke hotel masing².

Save Sharks Indonesia, CI & Manta Trust

Save Sharks Indonesia, CI & Manta Trust

Kalau masih mau makan seafood yang enak² itu, mari sama² kita jaga populasi hiu di lautan agar pola rantai makanan di ekosistem laut tetap seimbang. Let’s #SAVESHARKS !!

4 thoughts on “Save Sharks Mission – Bali Part 2

    • pejabatnya mungkin biasa aja, yang keren itu moment kebetulannya… kok ya bisa²nya kita “dipertemukan” olehNYA di sebuah tempat yg gak diduga-duga.

      secara, kegiatan observasi di Bali kemarin untuk mendukung keluarnya UU ttg perlindungan hiu oleh KKP 🙂

      aamiin doanya, mari sama² kita bangun awareness masyarakat utk #savesharks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s