Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali


Bali Adat Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali

Bali Adat Desa Tenganan Pegringsingan

Berawal dari tidak sengaja melihat sebuah kartu pos, lalu mengamati, tertarik, kepikiran, dan… berkhayal pengen ke tempat itu. Menunggu lama tanpa tahu kapan bisa kesampaian kesana. Nggak enak banget rasanya. Ada yang pernah mengalami hal serupa?

Ya, begitulah, selama bertahun-tahun saya penasarannya dengan suasana Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang ada di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Sampai akhirnya kesampaian berkunjung kesana pada 13 April 2013 lalu.

Tak sia-sia rasanya setelah 2 jam duduk manis sambil terkantuk-kantuk menyusuri jalan bypass Ida Bagus Mantra ke arah timur yang menghubungkan Denpasar & Karangasem, akhirnya saya dan teman-teman sampai juga di pemukiman suku Bali Aga, desa adat Tenganan Pegringsingan. Gumpalan awan hitam di langit menandakan segera turun hujan. Kami pun bergegas.

Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali

suasana desa adat Tenganan Pegringsingan

Memasuki sebuah gapura kecil yang menjadi pintu masuk desa, saya serasa masuk ke dunia lain. Aura di dalam pagar begitu berbeda dengan di luar. Begitupun dengan bentuk bangunannya. Rumah-rumah beratap rumbia berdempet memanjang berhias aneka kerajinan. Bentuknya tidak seperti rumah adat Bali pada umumnya. Terkesan kuno dan etnik. Kain-kain tenun terayun melambai tertiup angin. Warna-warninya membuai mata pengunjung agar mau mampir ke rumah, membeli souvenir. Sementara ayam-ayam jago nan kekar tak berdaya dalam kurungan. Pohon-pohon bunga kamboja menambah kesan magis kampung ini.

Saat sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba…

“mari dek, silakan mampir” kata seorang wanita setengah baya di teras rumah dengan logat khas Bali. Senyum ramahnya membelokkan langkah kaki kami

Kain Tenun Pegringsingan Khas Desa Adat Tenganan Karangasem Bali

Kain Tenun Pegringsingan

Kami masuk ke sebuah rumah diantara deretan rumah-rumah adat Bali Aga itu. Kain tenun aneka motif tergantung dimana-mana. Benang-benang masih bertebaran tak jauh dari sebuah alat tenun manual dari kayu. Gagangnya sudah licin mengkilap, menandakan betapa seringnya alat tenun itu digunakan, bergesekan dengan tangan. Pelinggih berdiri di pojok ruangan lengkap dengan canang & dupa yang masih mengepul. Kami dipersilakan duduk.

Ni Komang namanya. Sambil lesehan, beliau lalu bercerita banyak tentang proses membuat kain tenun Pegringsingan, sejarah desa adat Tenganan, peraturan adat yang berlaku, pernikahan adat Tenganan (disini mengenal system endogamy, menikah dengan orang yang masih satu lingkungan), perayaan hari raya keagamaan (disini tidak merayakan nyepi), prosesi pemakaman di setra desa (disini tidak ada upacara ngaben/palebon) sampai pada intrik desa tetangga yang membuat desa adat teganan “abal-abal” hanya untuk menarik wisatawan.

Cukup lama kami berbincang di dalam rumah. Begitu banyak hal yang diceritakan, dan saya hanya bisa bengong. Ada banyak perbedaan adat istiadat dengan masyarakat Bali pada umumnya. Tapi disinilah uniknya. Disinilah letak kekuatan karakter desa adat Tenganan Pegringsingan itu. Memegang teguh adat istiadat & keyakinan, sehingga masih tetap lestari hingga saat ini.

Tangga Menuju Makam Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali

tangga menuju setra

Usai ngobrol di rumah Ni Komang, karena penasaran saya lalu menuju ke setra/makam desa yang ada di bukit belakang desa. Vegetasi pohon dan perdu nya masih rapat. Agak spooky. Namun baru sampai gerbang setra, gerimis membasahi bumi. Saya urungkan niat untuk masuk kedalam hutan dan lari berteduh di balai banjar tempat warga biasa mengadakan pertemuan. Untungnya hujan segera reda. Kami pun lalu memutuskan untuk pulang.

Namun satu hal yang masih mengganjal. Karena nggak sempat ambil uang di ATM hari itu, maka duit di dompet tinggal beberapa lembar saja. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli kain tenun Pegringsingan. Sekarang, nyeselnya setengah mati 😦

Mencari Akomodasi Hotel Di Bali? Klik Disini

Note:

  • Di Karangasem, Bali, ada 2 desa adat yaitu Tenganan Pegringsingan & Tenganan Dauh Tukad. It’s different.
  • Biasanya pada bulan Juni diadakan upacara adat pesta perang pandan. Menarik banget!
  • Setahu saya belum ada transportasi umum untuk mencapai kesini. Dapat dijangkau dengan sepeda motor / mobil pribadi.
  • Kerajinan khas desa dat Tenganan Pegringsingan selain kain tenun, ada juga ukir/lukis daun lontar. Worth to buy, karena unik untuk koleksi.
  • Try to mingle with the locals, seru deh!! Masyarakat disini ramah dan kita bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup dari kearifan lokal mereka 🙂

Happy Traveling !!

31 thoughts on “Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali

  1. Keren banget neh tempat,kayaknya pernah lewat sini waktu liputan bom di bali. Thanks so much for the review at least ada tempat baru yg mau di liat kalau ke bali 🙂

    • Your welcome, inilah sisi lain Bali 🙂
      lokasinya Desa Adat Tenganan agak keatas gitu mbak, sekitar 10 Km ke timur lagi dari pantai Candi Dasa. besok cerita ya kalau main kesini. jangan lupa beli kain tenun nya, ntar nyesel kaya aku hehe

    • kalau blusukan kampung, masih banyak kok hal-hal keren dari Bali. yang anti mainstream pun banyak yang belum ter explore. kalau kesini, coba mampir ke dua desa adat tenganan itu, deketan kok, biar bisa compare 🙂

      • siappp…mengunjungi desa adat sepertinya akan banyak membantu kita mengenal bali yang sesungguhnya, karena sekarang orang bali malah banyak yang terpinggirkan akibat imbas pariwisata masif hehe:0

  2. Blom pernah ke desa adat Bali nihh hahhaa… Btw petunjuk arahnya cukup jelas nggak ya? Atau perlu bantuan GPS ( penduduk setempat )?
    Mau nitip kain tenunnya? #kode 😀

    • kalau ke Tenganan, seingatku pas aku kesana nggak banyak petunjuk, tapi gampang dijangkau dg motor/mobil pribadi. mau banget nitip scarf tenun gringsing nya yak! lemme know kalau kamu mau berangkat kesana 🙂

    • wah enak tuh, bisa nebeng & dianterin temennya yg di Karangasem hehe. kain tenun gringsing nya sekitar 200ribu (yang kecil) sampai jutaan 🙂

      kebetulan aku koleksi kain2 tenun yg kecil2 gitu dr beberapa daerah, dan pas kesini gak sempet beli jadi nyesel bgt…

      • baru sedikit kok, kain2 tenun khas manggarai, bena, kupang, rote & alor. itupun cuma yang pendek2, bukan kain sarung lebar yg mahil itu hehe. ya pelan2 aja koleksinya 🙂

        ak blm sempat blogwalking balik nih, besok ya kalau pas OL pakai komputer 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s