Sate Suruh Salatiga

Aroma daging yang dipanggang diatas bara api menari-nari di hidung, begitu menggoda selera. Asap mengepul tak tentu arah. Sebuah kipas angin usang bergeleng ke kanan ke kiri menghebuskan udara sekuat tenaga, berupaya keras menyuplai udara kepada pengunjung warung agar tidak kepanasan. Sementara saya hanya bisa duduk manis di kursi pojok warung menunggu antrian ditemani semangkuk wedang ronde panas… Saya sangat kelaparan sore itu…

Sate Suruh Kuliner Khas Salatiga

Sate Suruh Kuliner Khas Salatiga

Anyway, setiap daerah di Indonesia ini, rata-rata memiliki kuliner sate yang khas & berbeda-beda. Ada sate padang, sate lilit, sate pusut, sate kerbau, sate maranggi, sate ambal, sate klopo, sate buntel, sate ponorogo, sate kere dan masih banyak lagi. Begitu pula di Salatiga, sebuah daerah di Jawa Tengah yang memiliki sajian khas bernama Sate Suruh. Pada saat mendengar namanya pertama kali, saya kira bumbu sate ini menggunakan daun suruh, atau sirih. Namun ternyata, Suruh adalah nama sebuah desa di Salatiga, tempat cikal-bakal resep sate nan lezat ini berasal.

Setiap berkunjung ke Salatiga, rasanya kok ada yang kurang kalau belum mampir ke warung sate suruh yang ada di kompleks ruko Pasar Salatiga, di Jalan Jenderal Sudirman. Sate yang merupakan salah satu andalan wisata kuliner di Salatiga ini dari daging sapi nan empuk. Warung dibuka mulai jam 09.30-21.30 WIB. Aneka bumbu rempah-rempah meresap sampai serat-serat daging terdalam. Usut punya usut setelah ngobrol dengan penjualnya, yang menjadikan sate suruh ini istimewa adalah bumbu kayu manis, kunyit & kencur. Jarang-jarang kan, sate tapi menggunakan bumbu-bumbu tersebut?

Sate Suruh lebih nikmat dimakan di tempat dengan menggunakan irisan ketupat. Kerupuk rambak dan sambal cabai rawit nan pedas siap menjadi pelengkap. Mari bersantap!!  🙂

Advertisements

Ice Cream Mahkota ~ Yang Terlupa

a Hidden Culinary Treasure in Magelang

Es Krim Mahkota Magelang

Es Krim Mahkota Magelang

Kalau di Jakarta ada Ragusa Es Italia, di Malang dan Semarang ada ice cream Oen, di Medan ada ice cream Tip Top & di Surabaya ada ice cream Zangrandi, nah Magelang juga punya es krim jadul seperti itu. Hanya saja belum banyak orang yang menyadarinya. Bahkan orang lokal Magelang sekalipun. (termasuk saya!)

Sebuah toko kecil di darah Poncol Magelang, tepatnya di Jalan Ahmad Yani no 41. Tidak ada plang nama, tidak ada kendaraan² terparkir, dan bahkan tidak ada tanda-tanda visual kalau toko tersebut menjual makanan berupa es krim dan roti. Yang ada malah sebuah papan standing yang mengiklankan penjualan tiket bus malam Kramat Djati & Safari Dharma Raya. Wajar lah, kalau orang mengira toko itu “hanya” agen tiket bus biasa. Padahal ternyata, didalamnya tersimpan harta karun kuliner yang sudah mulai langka.

Continue reading

Wisata Kuliner di Kudus

Sebagai pegawai kantoran, saya tidak banyak memiliki waktu untuk jalan², traveling, piknik². Tentu karena terbentur hari kerja & jatah cuti yang terbatas… #yanasib. Namun, meski begitu saya berusaha untuk tetap menikmati hidup, menikmati nikmat yang sudah di anugerahkanNYA. Diantara waktu yang sempit itu saya manfaatkan dengan refreshing dengan weekend escaping. Yaah, 2 hari “menghilang” dari rutinitas, terkadang sudah cukup menyegarkan pikiran kok. Meskipun lebih sering destinasinya hanya jarak dekat. Weekend getaway asyiknya impulsif aja. Pulang kantor jumat sore, setelah beres kerjaan, mandi di kantor sebentar langsung ambil baju ganti di loker, ngesot ke terminal atau stasiun deh. Dan berikut, salah satu cerita weekend getaway ke Kudus, menelusuri kekayaan kuliner khas pantura, warisan peradaban dulu kala. Semoga sekaligus bisa bermanfaat untuk teman² yang berencana akan icip-icip disana. Berikut hasil wisata kuliner di Kudus, Jawa Tengah, versi saya:

Lentog Kudus

Lentog Kudus

Continue reading

Restoran Halal di Phnom Penh

Cambodia Trip Part 6

Royal Palace - Kingdom of Cambodia

Royal Palace Square

“Tong Hak, kamu tahu Indonesian Embassy nggak?” tanya saya iseng
Dia malah senyam senyum sambil garuk-garuk hidung
“Dimana ya? Aku telpon kakakku dulu ya hehe”
“Nggak usah deh kalau nggak tahu, ntar malah ngerepotin”
“No, no its oke. Kalau nggak salah nggak jauh dari sini kok”

Kemudian dia telepon Polan, kakaknya…..

“Fahmi, kamu mau ke embassy? Mau ngapain? Kesana sekarang nih?”
“Kamu udah tahu arah-arahnya? Yaudah ayo jalan kesana. Tapi aku mau beli Es Tebu dulu, haus”

Begitulah kira-kira obrolan singkat saya dengan Tong Hak, driver tuk-tuk yang mengantarkan saya keliling Phnom Penh hari itu. Entah kenapa, begitu keluar dari Tuol Sleng Genocide Museum, pikiran iseng mau mampir ke kedutaan tiba-tiba muncul. Dan benar saja, ternyata lokasinya tidak begitu jauh dari Tuol Sleng. Meluncurlah saya kesana.

Continue reading